You could guide him towards goodness, and he would bring you happiness

537 49 38
                                    

"Eommaaa gendooong..."

Jisung berujar manja seperti yang biasa ia lakukan. Entah bagaimana bocah SD itu semakin sering meminta untuk digendong ibunya dari hari ke hari. Ia melakukannya setiap kembali dari sekolah dan hendak pergi sekolah. Seperti saat ini. Ia meminta begitu meyakini telah menyelesaikan urusan sarapan paginya.

"Eomma, Taeyoung juga! Taeyoung juga!"

"Kalian mau digendong? Sini, biar appa saja." Lagipula hari ini Leedo yang akan kembali mengantar anak-anak ke sekolah. Sekalian membawa keduanya ke dalam mobil, sekalian menggendongnya ke sana.

"Tidak mau! Jisung maunya sama eomma!" Seru Jisung ketika sang ayah sudah membungkuk untuk meraih tubuh mereka.

Merasa baru saja ditolak, Leedo sweatdrop seketika. Kalau bukan karena ada Mingi di sana, sudah ia cubiti tanpa henti sekujur tubuh bocah itu. Benar-benar menyebalkan.

"Taeyoung juga! Taeyoung juga!"

Dan juga seperti biasa, Mingi tidak bisa menolak permintaan kedua putranya yang menggemaskan itu. Mengangkat tubuh mungil Jisung dan Taeyoung, ia menggendongnya di dada. "Tidak apa-apa. Kalau mereka sudah besar nanti kan aku tidak bisa menggendong mereka lagi." Memasang kode di wajah, ia meminta pemakluman sang suami. Yang dibalas dengan gelengan kepala heran.

"Kau kuat sekali." Keheranan yang berhasil mengalihkan Leedo dari kekesalan yang baru saja ia rasakan.

"Aku tahu itu. Lihat, aku bisa membawa tiga anak sekaligus di tubuhku." Mingi mengatakannya dengan intonasi penuh keangkuhan. Rasanya Leedo jadi ingin sekali meninju wajah menyebalkan itu.

Tapi ia tidak cukup gila untuk merealisasikannya. Jadi cukup dengan senyuman simpul ia menjawab. "Aku juga bisa. Tapi kalau di dalam perut sepertinya tidak."

"Tentu. Kau tidak berada di posisi itu."

Keduanya terbahak. Leedo berhenti lebih dulu karena ingin menikmati kecantikan yang disuguhkan wajah tertawa istrinya. Ia selalu menyukai wajah itu. Selalu menyukai cara tawa itu. Selalu menyukai pemilik wajah dan tawa jenis itu. Ia jadi mempertanyakan istilah jatuh cinta pada pandangan pertama, pada istri yang sering membuatnya jatuh cinta. Ia akan memasukkan ke dalam kamus dan prinsipnya bahwa istilah itu tidak berlaku bagi banyak pihak termasuk dirinya.

Dan dalam satu adegan yang terasa seakan berada dalam mode mute, ia meminta dalam hati. Untuk bisa memiliki Mingi selamanya. Untuk bisa terus hidup bersamanya dan hidup bahagia selamanya.

Dan setelah beberapa patah kata mengiringi perjalanan menuju mobil yang diparkir di luar rumah, Mingi mengecup pipi dua bocah dan satu pria di sampingnya sebelum mengucapkan kata-kata perpisahan.

Perpisahan yang akhir-akhir ini selalu menjadi gerbang bagi pertemuan dengan seseorang di luar sana.

Dan saat ini ia juga tetap akan pergi menemui pria itu. Dengan membawa tujuan dan perasaan lain tentu saja. Influens dari ketiadaan ide konkrit yang Sihyeon informasikan padanya tentang Yunho secara dadakan benar-benar membuatnya ketakutan. Kali ini ia berencana untuk memastikan bahwa pria itu seperti atau tidak seperti apa yang mantan terindah Mingi--yang perempuan--itu katakan. Bahwa pria itu benar-benar adalah pria baik-baik--di luar keburukan atas pertikungan--atau benar-benar sosok pria yang... ah, entahlah. Keburukan lainnya tidak bisa Mingi terka begitu saja. Ia butuh kejelasan.

"Pulang sekolah nanti kalau appa menjemput Jisung lagi, appa yang gendong Jisung," ujar si sulung seakan mengerti bahwa melalui tawaran sentuhan di dalam rumah tadi, sang ayah merindukan skinship di antara mereka. Menyibak lamunan Mingi tentang Yunho dan membuat sepasang suami istri saling bertatapan dan menyemat senyum penuh arti pada satu sama lain.

MENDA-CITY 🖥 YunGi [⏹]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang