definitely choice

225 40 0
                                    

014 — definitely choice — Jangan manyun nanti jelek. Lebih baik tebarkan senyum biar cantik.


Darin baru keluar dari lobby hotel, tapi sudah terkikik geli disuguhi aksi pertengkaran kecil antara kakak beradik. Ransel yang tak ada isi hanya berupa dompet, tissue, sunscreen serta lipcream saja hampir terjatuh dari sebelah bahunya karena tidak memakai dengan benar.

Perkelahian siapa yang membuka pintu depan itu lalu dimenangkan Cakrawala sigap membuka pintu untuk Darin. "Silahkan masuk, kamu duduk depan aja Darin." Tidak hanya Langit. Cakrawala juga bisa memamerkan lesung pipi bersama lontaran candaan. "Lo di belakang," sahut Cakrawala menepuk-nepuk pundak Langit, bergegas memutari kap mobil ke kursi pengemudi.

"Ngga mau ngalah banget sama adiknya." Langit menggerutu seraya membuka pintu belakang.

Keluar dari area tempat penginapan Darin. Cakrawala melirik Langit lewat kaca depan. "Mau diantar ke mana, Lang?"

"Terserah mas," jawab Langit sibuk berkutat dengan ponsel pintar tengah tersenyum sendiri membalas grup berisikan Bima, Bunga dan Davina yang telah lama senyap.

"Gimana sih dek, lo yang ajak keluar, lo juga yang ngga tau mau ke mana." Cakrawala mendesah kasar lantas melirik Darin. "Because my bro no destination. Then I invite you to my studio, how about it?"

"No matter, ke mana saja aku pasti suka," Darin menengok ke belakang mendapati Langit tersenyum lebar menatap ponsel. Langit terlihat sangat bahagia dan ide-ide gila yang biasa tercetus tidak ada untuk hari ini.

"Setelah dari studio saya, nanti kamu minta bawa Langit ke kotu aja."

"Kotu apa, mas?"

"Kota Tua."

"Oh Kota Tua." Darin kembali menolehkan kepala. "Kala, kalau jadi ke kotu kita naik sepeda, ya? Aku pernah lihat vlog akun youtuber di Kota Tua ada yang sewa sepeda."

"Iya Dar," balas Langit belum berhenti melepas ponsel pintar.

"Darin, sudah diajak ke mana aja sama Langit?" Cakrawala memulai membuka topik dari pada mereka bengong selama perjalanan.

"Ke Sea World, mas. Terus main badminton di GBK, ke puncak di Bogor juga kita camping. Sama ke penginapan dekat pantai kemarin."

"Puncak di mana?"

"Aku lupa nama gunungnya pokoknya daerah Bogor kata Kala, tempatnya ngga terlalu tinggi, ngga bikin lelah naiknya, sebelumnya Kala pernah ke sana katanya."

Cakrawala mengingat-ngingat yang dimaksud Darin. "Kayaknya bukit Alesano, ya?"

"Iya itu, mas!"

"Bagus di sana, tapi sering ramai. Soalnya itu bukan gunung, tapi bukit makanya ngga terlalu nanjak. Waktu ke sana, ramai?"

"Lumayan mas, tapi untungnya kita dapat tempat."

"Kalian bangun tendanya dua atau satu tenda?" Cakrawala iseng bertanya.

Darin melirik takut-takut kepada kakanya Langit. "Kala cuman bawa satu."

"Emang Langit cuman punya satu, Darin." Lalu Cakrawala tertawa agar Darin merasa santai kepadanya.

Tiba juga di daerah Senopati usai berjibaku pada jalan selama tiga puluh menit, letak rumah production milik kakak Langit. Cakrawala dan Darin mulai berkeliling melakukan room tour mengenali beberapa ruang musik production, tempat pembuatan musik dari belum lahir sampai sudah menjadi sebuah karya.

Cakrawala dan Darin memasuki salah satu ruangan lebih kecil dari ruang lain. "Ini tempat untuk edit-edit kalau selesai rekaman, tempat ini sudah lama tidak digunakan lagi, pindah ke tempat yang lebih luas. Sudah tidak terpakai karena zaman makin berubah kan, jadi alatnya juga makin canggih. Tapi saya ngga pernah ubah ruangan ini, dibiarin aja kecuali kalau mau liat hasil rekaman lagu yang dulu."

Cerita Satu Minggu JakartaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang