12. Trapped

761 84 5
                                    

Aera tak mampu berkata-kata. Merasa, dirinya dan Taehyung seperti terperangkap dalam jaring-jaring kenangan sewaktu keduanya bersama. Seolah mata Taehyung berkelana menuruni tubuhnya dalam balutan kemeja merah marun itu, memiliki kekuatan untuk menariknya kembali. Dengan beraninya Taehyung melontarkan kalimat yang bisa disebut lamaran itu. Mengajukan diri ingin menjadi calon suaminya. Bahkan di hadapan tunangan dan Kakek Yuhn. Jelas, membuat Aera semakin kacau.

Meski setelah itu, Aera memilih pergi—tak mengatakan apa-apa lagi. Sekarang, Aera sangat menyadari jika Taehyung bisa melakukan apa saja yang pria itu inginkan. Aera memang pergi dari situasi rumit tersebut. Namun, tak dapat menghindari masalah baru yang akan segera datang. Bahwa kehadiran Taehyung di kantor Kakek Yuhn bukan semata karena mengejar Aera. Taehyung di sini hendak membahas kerja samanya dengan Kakek Yuhn. Hal itu pula yang membuat Aera terpaksa mau tidak mau menemui Taehyung. Kakek Yuhn yang memintanya. Sepertinya, Kakek tidak mempermasalahkan kalimat gila itu—menurut, Aera beberapa menit yang lalu.

Aera langsung bertanya pada inti, basa-basi pun percuma. Tampaknya dia segera ingin melenyapkan diri dari hadapan Taehyung. "Bagaimana dengan proyek anggurnya?"

"Oh," Taehyung tersentak, sebab tak menyangka Aera akan langsung bertanya. "Itu mungkin akan membutuhkan waktu lebih lama."

"Jadi, aku harus melanjutkan permainan menyebalkan ini untuk segera mendapatkannya? Aku tidak bisa melakukan itu." ujar Aera datar, bisa menebak bahwa saat ini Taehyung berupaya menjebaknya. "Sejak awal aku takkan mau kalau saja aku tahu tentang mantan istrimu yang sudah mati."

"Bukankah kau pernah bilang jika kau yang berhak memberi permainan padaku? Atau kau merasa semua ini adalah permainan?"

Pertanyaan Taehyung membungkam Aera. Begitu berhasil sampai-sampai Taehyung tertawa sinis dan maju untuk menyentuh pipi Aera, yang kembali bersemu, dengan ujung jari-jarinya. "Jangan pernah sebut ini permainan, Aera. Kenapa kau tak menjadi dirimu sendiri? Aku begitu tahu bahwa kau berpura-pura selama ini. Kau wanita lemah yang keras kepala."

Taehyung melangkah keluar. Setelah dia menghancurkan pertahanan diri yang Aera bangun sekuat tenaga.

Wanita itu duduk dan menghabiskan minumannya dengan sekali teguk, frustasi. Pikiran yang membuatnya marah itu—dengan ledakan kehangatan yang menjalari pembuluh darahnya karena wine yang diminum—menghasilkan sebuah kesimpulan. Untuk hari ini, setidaknya ia tidak punya pilihan apa pun kecuali tetap melanjutkan rencananya.

Tercetus di benaknya, jika membiarkan Taehyung mencintainya adalah tindakan yang berbahaya, mungkin bodoh, itu artinya meminta hatinya disakiti. Tapi sebenarnya jatuh cinta adalah perasaan yang sangat indah.

Yoongi mengetuk pintu tepat saat Aera memikirkan hal itu, dan melangkah masuk. Karena tepat sekarang Aera sedang memikirkan pikiran-pikiran buruknya, Aera tak bisa memikirkan sesuatu untuk dikatakan. Kini, ia hanya bisa memandangi Yoongi yang berdiri di hadapannya seraya memasukkan kedua tangan di saku celana. Aera melihat alis Yoongi yang berkerut dan ia segera mengerahkan diri untuk mengatakan kalimat ringan. Justru terjadi sesuatu yang buruk, tiba-tiba Aera cemas.

"Aera?" panggil Yoongi dengan suara berat, nada suaranya dingin. Tentu, Aera tahu apa yang membuat Min Yoongi terlihat kesal.

"Ada masalah apa?" Yoongi lanjut bertanya, ikut duduk di sebelah Aera.

Aera membuka mulut untuk menyangkal bahwa sejujurnya ia ada masalah—tapi mulai cegukan, efek terlalu banyak meminum wine. "Oh, tidak Yoongi! Mungkin karena aku lelah." dia menutup mulutnya dan menarik napas dalam-dalam. Sungguh sial, saat Aera mengembuskan napas cegukannya datang lagi, sehingga ia terpaksa menutup wajahnya menggunakan tangan, gelisah.

LEFLAIVE ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang