Hari ini adalah hari paling melelahkan semasa aku SMA. Ini baru hari pertama datangnya murid pindahan, namun kini aku malah kena hukuman bersama mereka. Entah mengapa, aku terseret ke dalam masalah ini. Padahal, aku sama sekali tidak ikut bermain bola voli itu. Peran diriku di permainan itu hanyalah figuran atau bahkan bisa dibilang sebagai pajangan yang tidak memiliki peran banyak. Aku juga sebenarnya tidak mau ikut dalam permainan voli itu. Jika aku ikut bermain voli, mungkin aku sudah kehilangan lenganku. Aku cukup bersyukur karena hanya menjadi pajangan di lapangan.
Lokasi terkini adalah toilet pria di lantai satu. Terdapat delapan anak siswa termasuk diriku di sini. Para murid perempuan tidak mau membersihkan toilet perempuan. Jadinya mereka bergabung dengan murid laki-laki. Itu membuat pekerjaan lebih menumpuk lagi. Apalagi, mereka semua tidak memiliki niat untuk membersihkan toilet. Padahal mereka yang menabur, kenapa harus aku yang menuai?
Aku mengembuskan napas sembari menyiramkan air ke lantai menggunakan selang berwarna biru. "Kenapa jadi gini ya?"
Kalau dihitung dari orang yang berada di sini memang delapan, namun jika hanya dihitung dari yang bekerja, itu beda cerita lagi. Hanya aku dan Firman saja yang membersihkan toilet. Yang lain? Mereka semua hanya bermain-main. Ada yang hampir terlelap di atas matras depan toilet, ada yang bermain air, ada yang sedang makan, dan ada yang sedang menggunakan toilet. Ini kacau.
Jujur saja, ini baru pertama kalinya aku terkena hukuman. Dari pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sekolah dasar hingga kini, ini baru pertama kalinya aku menjalani hukuman. Ini sama saja memecahkan rekor yang sudah kujaga selama sepuluh tahun ini. Padahal, aku sudah mencoba untuk tidak mencolok sejak dulu, namun nampaknya itu tidak berguna saat ini. Semuanya karena tujuh murid pindahan ini.
"Hey, Devan!" panggil Feri yang sedang bermain air bersama Tania.
Aku menduga kalau Feri itu seorang siscon. Ia selalu berada di dekat Tania. Jika mereka berjauhan, Feri selalu mencari cara untuk memperhatikan Tania. Tania juga mungkin seorang brocon. Ia tidak mau jauh-jauh dari Feri. Mereka berdua sudah seperti sepasang kekasih dibandingkan saudara.
"Apa?" tanyaku menanggapi panggilan Feri.
"Apa kau benar-benar Raja Iblis Sejati?" tanya balik Feri dengan wajah serius. Itu adalah pertama kalinya aku melihat wajah serius Feri.
Hah? Raja Iblis? Kau pikir ini anime apa?
"Maksudnya?" tanyaku balik. Jelas kalau aku kebingungan. Itu pertanyaan paling aneh yang pernah ditanyakan kepadaku.
Feri menghela napasnya. "Seperti namanya. Raja Iblis Sejati adalah seseorang yang memimpin para iblis. Kudengar kalau kau adalah Raja Iblis, makanya aku menanyakannya ke dirimu."
"Sorry. Aku bukan Rimuru Tempest," jawabku acuh tak acuh.
Raja Iblis Sejati atau True Demon Lord mirip sekali dengan istilah di anime slime. Di anime itu, untuk menjadi True Demon Lord, kita harus memanen jiwa. Untuk yang memiliki benih Demon Lord, memerlukan sepuluh ribu jiwa. Sedangkan untuk yang tidak memiliki benih Demon Lord, memerlukan seratus ribu jiwa. Itu adalah persyaratan utamanya. Tapi, aku saja tidak pernah membunuh manusia. Bagaimana mungkin aku adalah raja iblis.
Lagipula, ini bukanlah isekai fantasy. Kalau ini dunia lain, seharusnya aku sudah punya unique skill atau minimal extra skill. Tapi, aku sama sekali tidak memiliki skill selain bakat. Kalau benar ini dunia lain, mungkin aku sudah tewas oleh amukan Veldora. Ya, ini kenyataan, bukan anime. Bedakan kenyataan dengan anime.
Aku juga hanyalah manusia biasa. Aku bukanlah Raja Iblis ataupun Pahlawan Terpilih. Aku hanyalah seorang siswa SMA yang menjalani kehidupan yang monoton. Itu tidak kurang dan tidak lebih. Aku sudah cukup puas dengan kehidupan ini. Jadi jika ditanya aku ini Raja Iblis atau bukan, tentu aku jawab bukan. Lagipula, itu adalah hal yang bodoh. Aku bukan pengidap chuunibyou seperti Takanashi Rikka.
"Serius?" tanya Feri masih tidak percaya.
Aku menganggukan kepala. "Aku bukan pengidap chuunibyou."
"Pfftt!" Viani yang sedang meminum minumannya, tertawa karena perkataanku. Itu tawa yang cukup lama. Lebih dari 45 detik ia tertawa, bahkan itu hampir menyentuh satu menit. "Feri memang pengidap chuunibyou. Mana mungkin Devan ini Raja Iblis Sejati. Iya kan ..., Desi?"
Tiba-tiba, Desi keluar dari balik toilet. Ia memasang wajah kesal dan tangannya mengepal. Aku bisa melihat urat di kepalanya. Rasanya itu sedikit menakutkan. "Cih. Apa kalian tidak percaya padaku?"
Nampaknya, kami akan memasuki babak baru lagi. Para murid pindahan ini mungkin meributkan suatu hal yang berkaitan denganku. Walau aku tidak tahu apa itu, aku rasa itu membuatku dalam bahaya. Alarm dalam diriku mengatakan kalau atmosfer ini mungkin akan membuat preman pasar lari terbirit-birit. Aku terkejut bisa bertahan di sini. Jika itu teman kelasku yang lain, mereka mungkin akan langsung mencari alasan untuk kabur dari sini.
Tatapan Desi nampak kesal karena ucapan dari Viani. Para murid pindahan yang tadinya bermain-main, mulai terdiam dan menatap Desi. Mereka juga menatapku. Itu cukup membuatku khawatir. Mulai dari Feri hingga Zebian yang menyantap makanannya menatapku dan Desi. Bahkan, Bella terbangun untum menatapku dan Desi. Aku rasa ini tidak bagus.
"Tentu saja! Devan juga sudah bilang sendiri," jawab Firman yang melepaskan alat bersih-bersihnya.
Eh? Suasana mencekam apa ini? Perang saudara?
Desi mulai bersikap tenang setelah mengembuskan napas. Ia nampaknya kembali percaya diri dan mulai menatap teman-temannya. "Bagaimana jika kita membuktikannya?"
Ini benar-benar memasuki babak baru. Desi yang merasa yakin mulai menyerang. Tentu saja, para murid pindahan yang lain hanya tersenyum menanggapi serangan Desi. Mereka semua seakan sudah tidak percaya Desi dan mulai meremehkannya. Senyuman mereka seakan-akan mereka akan menangkap bola yang ditendang oleh balita berumur tiga tahun. Walaupun itu tepat sasaran, itu lambat dan mudah untuk ditangkap.
"Boleh saja! Aku akan membuktikannya." Bella bangkit dari matras dan mulai berjalan ke arahku. Wajahnya masih lesu seperti biasa. "Aku---Bella Phegoria--akan membuktikannya."
Itu nampak seperti kemenangan bagi yang lain dan kekalahan bagi Desi. Bella yang berjalan ke arahku mulai tersenyum. Tatapannya penuh keyakinan. Wajah lesu yang biasa ia pasang, kini sudah menghilang. Wajahnnya sepenuhnya segar. Ia nampak seperti terlahir kembali menjadi sosok yang baru. Itu juga membuatnya seperti mengeluarkan aura hitam di belakang punggungnya.
"Jika itu Belphe--, maksudku Bella, itu akan menjadi hal yang mudah," ucap Feri dengan penuh percaya diri.
Saat itu, aku tidak menyadarinya sama sekali. Seluruh kehidupanku mulai berubah ketika mereka datang. Takdir yang menantiku atau begitulah yang bisa kukatakan. Genre kehidupanku yang tadinya Slice Of Life mulai berubah menjadi Fantasy. Hari itu, kehidupan monotonku mulai menghilang dan tidak akan pernah kembali lagi. Selamat tinggal, kehidupan monotonku!

KAMU SEDANG MEMBACA
Bagaimana Mungkin Aku Adalah Raja Iblis?
FantasySeorang siswa SMA bernama Devan Steviano menjalani kehidupan sekolahnya yang monoton. Ia menyukai kehidupan klise yang ia jalani setiap harinya. Suasana damai adalah yang ia nikmati. Merasakan damai dengan setiap bagian dari tubuhnya. Namun, itu sem...