Chapter 10. Satu Rumah

363 56 2
                                    

Aku terdiam. Benar-benar tidak bisa berbicara sama sekali. Ini semua tidak seperti yang kuharapkan. Aku tidak pernah menduga ini akan terjadi. Semuanya menjadi sangat kacau dan tidak jelas seperti ini. Aku hanya bisa mengembuskan napas. Mencoba menerima semua ini dengan lapang dada. Tapi, sepertinya itu tidak mudah. Bagaimana bisa aku bisa menerima itu dengan mudah, sedangkan semuanya menjadi kacau seperti ini. Tiba-tiba saja, mereka semua tinggal di rumahku.

Rumahku memang bisa dibilang besar dan bisa ditinggali oleh mereka semua. Selama ini, rumah ini hanya ditinggali oleh keluargaku saja. Katanya, ayahku membeli rumah ini ketika melamar ibuku. Itu cukup romantis jika aku pikirkan. Ayahku memiliki impian untuk mempunyai banyak anak, jadi ia membeli rumah besar dengan banyak kamar kosong. Ketika aku lahir, ayah melihatku sebagai anak yang spesial. Ia mengurungkan niatnya untuk memiliki banyak anak dan fokus membesarkanku. Alhasil, rumah ini terlalu besar untuk keluarga kecil kami.

Aku menghela napas mencoba menerima kenyataan. Jika itu aku, aku pasti akan menolak mereka untuk tinggal di sini. Masalahnya adalah orang tuaku. Mereka dengan senang hati menampung para murid pindahan itu. Aku hanya bisa menerima itu. Jika aku tidak menerimanya, itu akan membuatku menjadi anak durhaka. Itu sama saja mengkhianati mereka yang telah membesarkan diriku. Jadi, aku menerima tujuh orang asing di rumah kami. Ya, mungkin itu akan lebih menghidupkan rumah ini.

"Apa anda ingin minum teh, Tuan?" tanya Desi yang membungkuk hormat di depanku.

Duduk di sofa memang menyenangkan. Sofa empuk berwarna merah ini membuat tubuhku seakan terisap dalam keempukan ini. Itu sangat menyenangkan. Rasanya, aku sedang tiduran di tumpukan bulu domba. Ya, mungkin sofa ini terbuat dari itu. Walau tidak seempuk payudara Desi, sofa ini membuatku nyaman. Aku ingin terus berada di sofa ini.

"Tuan?" panggil Desi yang melihatku sedang tiduran di sofa. Ia menatapku kebingungan. Nampaknya, ia tidak tahu apa itu kenikmatan dunia.

"Kenapa?" Kini, aku sudah terbiasa dipanggil tuan oleh Desi atau Bella. Walau aku tidak tahu alasannya, aku hanya menerima itu. Aku tidak mau merepotkan otakku ke dalam masalah rumit ini.

"Apa anda ingin minum teh? Kalau anda mau, saya akan segera membuatkannya," ujar Desi dengan lemah lembut.

Aku terdiam sesaat. Walau sebelumnya aku mendengar ucapannya, aku berpura-pura tidak mendengar omongannya. Jujur, aku tidak pernah minum teh ketika di rumah. Itu berbeda dengan ayah atau ibu yang meminum kopi atau teh ketika bersantai. Ketika aku bersantai, maka aku memilih untuk tidur atau mencari cemilan untuk dimakan. Jika tidak, aku akan memainkan game online atau menonton anime. Banyak hal yang bisa kulakukan ketika waktu senggang, tapi aku tidak pernah minum teh. Lagipula, aku saja jarang minum air putih dan lebih sering minum susu kemasan.

Tangan kananku memegang dagu. Mencoba berpura-pura berpikir. Mungkin itu adalah tipuanku yang paling menarik yang pernah kulakukan. "Di kulkas ada susu kotak, tolong tuangin di gelas ya!"

"Siap!" Desi membungkuk hormat dan segera menuju dapur.

"Tunggu!" aku memberhentikan Desi karena suatu hal.

Desi langsung berhenti di tempat dan berbalik menghadapku. Wajahnya nampak agak panik. "Kenapa, tuanku?"

"Kenapa kau pakai seragam maid?"

Aku baru menyadari itu ketika Desi berbalik dan pergi. Ia mengenakan seragam maid seperti di anime. Terlebih lagi, ia mengenakan kuping kucing berwarna hitam di kepalanya. Itu sangat imut. Dengan wajahnya yang imut dan cantik, kuping kucing hitam itu menambah keimutannya. Jika aku bukan laki-laki dengan iman yang kuat, aku mungkin sudah mimisan dan pingsan di tempat karena diserang oleh keimutan yang luar biasa. Untungnya, aku masih bisa menahan damage itu.

Jujur saja, jantungku berdegup kencang melihat kecantikan Desi. Baru kali ini, aku memandangnya sebagai wanita. Maksudku, aku memandangnya bukan seperti teman atau sahabat atau semacamnya. Ia terlihat sangat cantik, setiap laki-laki akan jatuh cinta pada kecantikan itu. Mungkin aku juga jatuh cinta padanya. Ya, itu hanya kemungkinan.

Dengan wajah yang terlihat seperti blasteran Rusia dan Asia Barat. Wajah cantiknya mungkin berasal dari Rusia dan keimutannya berasal dari Asia Barat, itu Korea yang kumaksud. Setiap orang akan terpana, bahkan jatuh hati. Mereka mungkin melihat Desi sebagai perwujudan dari Dewi Freya. Apalagi, tubuhnya terlihat sangat bagus. Mata laki-laki akan teralihkan ketika melihat tubuhnya. Laki-laki mesum akan langsung mendekati Desi dan menggodanya. Desi memang yang tercantik di antara murid pindahan lainnya. Mungkin, Desi adalah wanita tercantik yang pernah kutemui.

"Karena saya pelayan anda, Tuan," jawab Desi dengan nada lemah lembut. "Saya dan Bella akan melayani anda mulai dari sekarang. Kelima yang lainnya mungkin akan melayani anda ketika mereka mempercayai saya."

Itu adalah jawabannya. Ketika aku mendengar Desi adalah pelayanku, pikiran bejatku malah meraung bahagia. Entah mengapa, aku memiliki pemikiran untuk mendapatkan tubuh Desi atau Bella. Lagipula, Desi dan Bella adalah pelayanku. Mereka akan melayani diriku dan menjalankan segala perintahku. Itu adalah hal yang bagus. Aku akan menikmati ini sebisaku. Ini adalah kesempatan seumur hidup memiliki maid yang cantik.

Tidak! Tidak! Tidak! Aku masih SMA! Tidak seharusnya memiliki pemikiran seperti itu. Aku seharusnya tidak berpikiran bejat! Tidak boleh! Pokoknya, tidak boleh!

Aku menghela napas setelah menepis pikiran kotor itu. "Baiklah. Aku tidak peduli dengan itu."

Setelah itu, Desi mengambilkanku susu. Aku dengan senang hati meminumnya. Desi pergi meninggalkanku sendiri di ruang keluarga ini. Aku hanya tiduran di sofa setelah minum susu itu. Rasa kantuk tidak menyerangku, jadinya aku terjaga. Menatap langit-langit rumah dengan cat berwarna putih. Tubuhku lelah, begitu pula dengan pikiran. Aku ingin istirahat dan tertidur nyenya, tapi nampaknya itu tidak bisa. Setiap kali aku minum susu dingin, aku sama sekali tidak bisa tidur.

Seorang wanita dengan baju maid datang kepadaku. Ia berdiri di samping sofa. Menatapku yang sedang melihat langit-langit. Itu adalah Bella. Ia terlihat sangat anggun dengan seragam maid. Wajahnya yang cantik dan anggun menambah kesannya. Apalagi, tubuhnya mendukung penampilannya itu. Ia mungkin bisa menaklukan banyak laki-laki hanya dengan menatapnya.

"Ada apa, Bella?" tanyaku yang menyadari kehadiran Bella. Sebenarnya, aku sudah menyadari ada Bella sejak daritadi.

Bella sedikit terkejut karena tiba-tiba aku berbicara. Tapi, ia langsung memperbaiki sikapnya. "Bak mandi telah siap, Tuan! Saya akan membersihkan tubuh tuan!"

"Eh?" aku terkejut karena ucapan Bella.

Jangan bilang kau akan menggosok tubuhku? Kau juga akan telanjang dan menempelkan dadamu di punggungmu? HEI! INI BUKAN HENTAI!

"Seperti yang saya bilang, Tuan. Saya akan mandi bersama anda dan saya akan membersihkan tubuh anda," jawab Bella dengan nada lemah lembut.

Ngomong-ngomong, pakaian maid Bella lebih terbuka daripada pakaian maid Desi. Entah karena dada Bella lebih besar dari Desi aatu bukan, jelas itu menunjukkan dadanya kepadaku. Ya, walau hanya belahannya dan sebagian kecil dari itu. Tapi, tetap saja itu terbuka. Apalagi, bagian bawah Bella lebih pendek daripada punya Desi. Jika Desi mengambil seragam maid yang panjang hingga mata kakinya, Bella mengenakan seragam maid yang hanya sampai pahanya. Itu menampilkan paha putih mulusnya.

"A-aku bisa mandi sendiri!" aku mengatakannya dengan sedikit emosi kesal. Ya, kata-kata itu didominasi oleh rasa malu dan gugup.

Bella menundukkan kepalanya hormat. Sikapnya sebagai maid sangat sempurna. "Baiklah kalau begitu."

Aku menghela napas panjang. Memikirkan kenapa aku tiba-tiba memiliki dua pelayan wanita. Juga genre hidupku tidak ada genre Ecchi. Tapi, tadi seakan fanservice yang ada di anime bergenre Ecchi. Deskripsinya juga terlalu mesum. Mungkin aku harus menguranginya. Aku akan bersikap tidak peduli dengan mereka dan tidak memperdulikan penampilan. Itu untuk tidak menambahkan genre Ecchi dalam hidupku. Semangat diriku!

Bagaimana Mungkin Aku Adalah Raja Iblis?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang