-"Cinta sepertinya adalah bentuk puitis dari obsesi terpendam dan keinginan untuk memiliki satu sama lain"-
***
⚠
️⚠️⚠️⚠️
Menenggelamkan diri dalam kubangan air rasanya masih tak bisa menghapus campuran kilat pedih dan amarah yang melesak tajam dalam memorinya. Mengoyak rasionalitas dan keseimbangan batinnya.
Ia seret kembali tubuhnya, pukulkan kepalanya pada pinggiran bath-tub.
Mata sayu yang biasanya menatap penuh cinta kearahnya, justru memancarkan kegelapan tak berdasar-- tajam namun sekaligus memilukan. Entah untuk keberapa kalinya gadis itu memukul sendiri kepalanya, lalu kemudian kembali menenggelamkan diri. Ia harap bisa mengenyahkan serba- serbi dan setidaknya mengikis sedikit rasa bersalah dalam diri. Namun nyatanya....nihil.
Tak sedikitpun rekaman memori itu enyah dari pikirannya. Meskipun amis darah turut bercampur air dan menggenangi dirinya yang memucat.
"Haruskah kita batalkan saja semuanya?"
Kim Jennie kembali meraung sejadi- jadinya ketika untaian kalimat itu diucapkan Hanbin dan bersarang di kepalanya.
Tidak! Ia tak mau berpisah dari Hanbinnya!
Entah kemana perginya akal sehat. Saat ini wanita itu tak menemukan pegangan apapun yang mampu menuntunnya menjadi lebih tegar. Kalimat tajam nan menusuk Kim Hanbin nyatanya menyayat hatinya lebih dalam.
Ia tak pernah sadar bahwa Kim Hanbin memberinya pengaruh sebesar ini.
Pun tak paham, sebenarnya apa yang membuat keduanya sehancur sekarang. Benarkah atas dasar cinta yang terlalu dalam, atau hanya karena ego yang menuntut kesempurnaan?
Semuanya berdiri diambang kegelapan dan kehancuran. Kim Jennie bahkan tak dapat lagi merasakan hidupnya. Katakanlah ia gila, terlalu berambisi dan terlalu mendamba sosok Hanbin yang tanpa disadarinya menjadi deru nafas lain yang turut menghidupinya.
Menghancurkan Hanbin, pada akhirnya juga akan membunuh Jennie perlahan. Begitulah hukumnya.
Menenggelamkan lagi dirinya dalam genangan, berharap semuanya dapat terhapus meski hanya untuk sedetik. Namun genggaman tangan dingin menariknya kasar kembali ke permukaan. Jennie Kim membuka matanya perlahan lalu memandang samar pada bayangan kekar yang kini mengangkat tubuhnya menjauh dari kubangan. Selembar handuk langsung membungkus erat tubuhnya yang direbahkan di ranjang, tak peduli pada tetesan air yang masih mengekor membasahi.
Dengan telaten tangan itu mengusap rambut basahnya, mengeringkan seluruh bagian tubuhnya dan memasangkan selembar pakaian untuk membantunya sedikit lebih hangat. Dengan pening yang masih menjalar di kepalanya, ia kembali meringis ketika merasakan benda lembut menyentuh beberapa goresan menganga di pergelangan tangannya.
"Bodoh!"
Suara dingin namun tetap saja menghangatkan hatinya.
"Siapa yang mengizinkanmu berlaku bodoh begini?"
Pandangannya kini terfokus sempurna, menatap sayu lelaki tampan yang masih memandangnya tajam.
Jemarinya yang memucat merambat pelan kearah rahang tegas sang pria, mengusapnya lemah. "Maaf."
Tak ada balasan apapun, lelaki itu hanya diam. Membiarkan jemari Jennie menggantung lalu lelaki itu bangkit dari posisinya untuk membereskan semua peralatannya tadi. Ia menjauh, berjalan kearah balkon. Menyalakan lalu menyesap benda yang sudah lama tak pernah ia sentuh. Membiarkan asapnya ikut mengudara diterpa angin.
