Considered Soundtrack for This Chapter : Harry Styles - Falling Piano Version ^•^
Diantara puluhan suara derap kaki normal diatas lantai dingin rumah sakit, terselip langkah kaki pincang yang bergerak lincah menaiki tangga lobi satu persatu. Sesekali berhenti karena lelah. Tidak ada ekspresi apapun dari wajahnya, tetapi sekali lihat, orang bisa mengatakan bahwa ia sedang bahagia karena kedua matanya berbinar seperti pantulan cahaya matahari di permukaan pantai. Berbanding terbalik dengan keadaannya yang harus bersusah-payah menahan berat tubuh pada tongkat yang ia sangga pada setiap langkahnya.
Ibunya pernah berkata bahwa wanita menyukai sesuatu yang manis. Jadilah ia membelikan beberapa bentuk cokelat dan buah stroberi yang dirangkai sedemikian rupa di toko seberang rumah sakit tepat jam dua belas siang walaupun hawa dingin menyeruak karena musim dingin mulai datang.
Buket itu ia jaga tinggi-tinggi, khawatir orang yang berpapasan menyenggol dan merusaknya. Belum lagi setiap perawat yang menyapa mengharuskan pria bergigi kelinci itu bersopan santun, membuat ia harus memegangi pinggangnya yang pegal akibat membungkuk berkali-kali. Tapi tidak apa, perasaannya sedang bahagia. Setelah sampai didepan pintu--sebuah kamar inap yang terletak di seberang kamarnya--ia berhenti sebentar untuk merapikan piyama dan rambutnya yang berombak. Kemudian dengan percaya diri mengetuk pintu kamar.
"Halo Jungkook-ssi! Kau datang lagi?"
Jungkook mengangguk sembari tersenyum malu-malu.
"Waah, Ji Eun sangat menyukai cokelat! Bagaimana kau tahu?"
Jungkook mengerjap, menggeser pandangannya pada wanita yang sedang asyik menonton televisi sembari terbaring di tempat tidur pasien, lalu memandang wanita itu lagi,"benarkah? Syukurlah kalau begitu."
"Baiklah, karena kau sudah datang, aku bisa pergi. Kau sengaja ya datang kesini pada jam makan siang karena tahu aku harus pergi?"
Jungkook mengangguk lagi sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "betul, bibi Park. Aku akan menemaninya, Anda bisa bekerja dengan tenang."
Wanita hampir 40 tahun yang dipanggil Bibi Park itu tersenyum merekah melihat Jungkook sudah menyamankan diri disamping Ji Eun. Ia bahkan membenarkan selimut yang tampak sudah tidak menutupi tubuh bagian atas Ji Eun lagi.
"Andai saja ia punya saudara sepertimu, pasti penderitaannya tidak akan separah ini." Ujar Bibi Park dengan mata berkaca-kaca. Sorot matanya menampakkan kesedihan tulus yang tak bisa Jungkook terjemahkan.
Ingin sekali Jungkook bertanya kecelakaan apa yang menyebabkan wanita muda disampingnya ini harus terbaring di rumah sakit. Tapi pertanyaan itu ditelannya bulat-bulat sendirian, tidak ingin mengundang rasa tak enak hati Bibi Park terhadapnya.
Setelah Bibi Park pamit, Jungkook berbalik menatap Ji Eun lagi, tangannya yang sedari tadi memegang buket cokelat-stroberi diangkat keatas. Rangkaiannya sangat sederhana, malah cenderung lucu karena ditambahi hiasan kupu-kupu merah muda diatasnya. Hanya buket itu yang saat ini Jungkook bisa jangkau. Tapi setidaknya, ia sudah berusaha.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.