Chapter 13. Viani dan Tania

261 36 1
                                    

"Apa kau percaya kalau Devan adalah tuan kita?" tanya Tania memecah keheningan.

Viani yang sedang melamun memikirkan kenangan masa lalunya langsung menatap Tania. "Entahlah. Aku tidak begitu yakin."

Itu bohong. Viani adalah yang pertama yakin kalau Devan adalah tuan mereka. Ia telah mengikuti ke mana jiwa tuannya pergi selama 300 tahun. Ia juga mengawasi Devan sejak Devan lahir. Itu semua ia lakukan hingga Desi menemukan Devan. Saat itu, Viani cukup terkejut ketika Desi tahu kalau Devan adalah tuan mereka. Ditambah, Desi langsung mengadakan rapat diskusi. Alhasil, seluruh penghuni dunia bawah pergi ke dunia ini.

Sebagai pelayan yang paling mengerti tuannya, tentu saja Viani tahu alasan kenapa tuannya memilih dunia ini. Itu bukan karena dunia ini berada langsung di bawah perlindungannya. Alasannya cukup sederhana, tuannya mengejar sesuatu. Sesuatu itu juga lah yang menyebabkan pertempuran surga dan dunia bawah beberapa tahun yang lalu. Semenjak sesuatu itu ada di dunia ini, tuannya lebih memilih menjadi manusia dan hidup di dunia ini.

Raja Iblis yang dilayani oleh seluruh penghuni dunia bawah dan neraka menginginkan kedamaian. Ia ingin melindungi sesuatu yang harus ia lindungi. Ia juga menyukai kedamaian karena itu menimbulkan ketenangan di hatinya. Karena itulah, ia memilih dunia ini. Dunia yang damai dengan sedikit peperangan.

"Begitukah? Tapi, Bella dan Desi yakin kalau Devan adalah tuan kita," ujar Tania sembari meminum susu coklat yang baru saja datang kepadanya. Susu coklat itu dibawakan oleh pelayannya yang muncul entah darimana.

Tanpa sengaja, Viani mengembuskan napas panjang. Ia juga sebenarnya ingin melayani tuannya, tapi ia tidak bisa. Tanggung jawab yang diberikan kepadanya membuatnya tidak bisa melayani pria yang ia cintai. Itu membuat Viani merasa senang sekaligus sedih. Ia senang karena diberikan kepercayaan. Ia sedih karena tidak bisa melayani tuannya.

Sebagai simbol dari iri hati, Viani sering kali iri dengan temannya yang lain, terutama Desi. Maka dari itu ia mengatakan hal kasar ketika olahraga. Ya, Viani tidak menganggap tuannya sebagai om-om ugly bustard. Tuannya juga terkadang memakai wujud om-om sebagai penyamaran. Jadi, perkataan itu bukanlah bentuk penghinaan terhadap tuannya. Lagipula, Viani juga tidak mungkin menghina tuannya. Ia akan siap memenggal kepalanya sendiri jika ia melakukan itu dengan sengaja atau tidak sengaja.

Viani beranjak dari tempatnya. Melihat ke arah Tania. "Kenapa kau tidak bertanya langsung?"

"Ehh?" Tania merengek ketika mendengar ucapan Viani. Ia memasang wajah seolah itu adalah hal yang merepotkan. "Kau saja yang bertanya pada mereka, Viani. Kau kan yang paling dewasa di antata kami."

Dalam hal sifat, Viani adalah yang paling dewasa. Dari penampilannya saja, Viani sudah nampak seperti wanita yang telah matang. Pemikirannya juga menunjukkan betapa dewasanya diri Viani. Berbeda dari Viani, yang lain masih memiliki sifat kekanak-kanakan. Terutama Tania. Walau ia adalah yang paling tua di antara perempuan yang lain, namun sifatnya yang paling kekanak-kanakan. Ia akan selalu merengek untuk mendapatkan apa yang ia mau. Terkadang, ia akan marah-marah dan menghancurkan barang jika kemauannya tidak dituruti. Tania merupakan gadis yang merepotkan.

Lagi-lagi, Viani mengembuskan napasnya. Ia sudah menduga kalau Tania akan berkata seperti itu. Sifatnya kenakak-kanakan Tania sangatlah mudah ditebak. Pemikiran Tania memanglah simple. Ya, itu karena sifatnya yang seperti itu. Viani selalu berharap Tania bisa sedikit lebih dewasa. Setidaknya, Viani berharap Tania bersikap seperti umurnya yang sudah sangat tua.

"Bagaimana kalau kita berdua yang bertanya?" tanya Viani mencoba menawarkan kesempatan itu kepada Tania.

Dalam pikiran Viani  ia mencoba membuat Tania menjadi wanita dewasa. Walau mereka sekarang mengambil peran sebagai siswi SMA, sikap Tania malah bisa dikatakan seperti siswi SD. Setidaknya, Viani ingin Tania bersikap kalau ia adalah siswi SMA kebanyakan. Itu mungkin cukup bagi Viani. Setidaknya, seperti itulah yang ia inginkan.

Terdengan desahan panjang dari Tania. Ia menaruh gelas kaca yang tadinya berisi susu coklat itu ke lantai. Matanya melihat wajah Viani. Nampaknya, ia sudah tidak punya pilihan lain. "Baiklah! Tapi, kau yang akan bertanya!"

"Oke!"

Mereka berdua pergi ke kamar wanita. Kamar wanita berada di ujung lorong lantai dua. Itu tepat di samping kamar Devan. Kamar laki-laki berada di lantai satu bersamaan dengan kamar yang digunakan oleh orang tua Devan. Pemilihan kamar itu dilakukan oleh mereka. Karena Bella dan Desi memilih untuk bisa tidur di samping kamar Devan, para wanita memilih kamar di ujung lorong itu.

Para laki-laki memilih kamar yang berada dekat dengan ruang tamu. Mereka memilih karena satu alasan, yaitu televisi. Mereka mungkin akan begadang untuk menonton pertandingan sepak bola. Tapi, mereka nampaknya tidak melakukan itu. Viani dan Tania tidak bisa mendengarkan suara apapun dari lantai bawah. Itu berarti para anak laki-laki sudah tidur nyenyak.

Ini tengah malam. Jadi, suasana rumah sangatlah sunyi. Banyak lampu yang dimatikan untuk menghemat listrik. Itu juga berlaku untuk lorong ini. Jadi, lorong ini sangatlah gelap dan sedikit menyeramkan. Jika ada manusia dengan mental lemah, mungkin mereka mengira kalau lorong itu tak berujung dan berhantu. Itu juga bukan tanpa alasan. Pintu kamar mereka tidak kelihatan di kegelapan itu. Juga, lorong itu memang dihuni oleh hantu.

"Viani, aku takut." Tania menggenggam lengan Viani dengan eratnya.

"Takut dengan apa? Hantu?" Viani bertanya dengan jengkel. "Kau ini iblis. Kenapa kau takut dengan hantu yang jelas-jelas takut dengan iblis?"

"Hehe."

Viani nampak heran dengan apa yang Tania lakukan. Untuk sampai ke teras lantai dua, mereka harus melewati lorong gelap itu. Lalu, bagaimana Viani sampai ke lorong? Itu sedikit membuat Viani bingung. Tidak lama, mereka berdua sudah sampai di depan pintu kamar.

Tok! Tok! Tok!

"Kenapa kau mengetuk pintu? Ini kan kamarmu sendiri."

"Maaf, kebiasaan. Hehe."

Viani mendengus melihat kelakuan dari rekannya itu.

Tangan Tania menggenggam kenop pintu itu. Ia memutar kenop berwarna kuning itu secara perlahan. Kemudian, Tania mendorong pintu. Cahaya dari dalam menerobos keluar. Perlahan, pemandangan di dalam ruangan terlihat. Di dalam ruangan itu, ada dua orang wanita yang sepertinya sedang asik mengobrol. Mereka berdua masih mengenakan handuk, nampaknya mereka habis membasuh diri. Itu adalah Bella dan Desi.

Tania yang melihat tubuh dari keduanya perlahan mengubah ekspresi  ia memasang wajah cemberut. Tania lupa kalau tubuhnya yang paling berbeda dari rekan-rekannya. Jika rekan-rekannya memiliki tubuh seksi, Tania memiliki tubuh biasa. Jika rekan-rekannya memiliki payudara yang besar, Tania bisa dikatakan sebagai papan cucian. Ya, Tania tidak memiliki dada besar seperti rekan-rekannya.

"Eh? Tania! Viani!" panggil Bella yang menyadari kehadiran dari Tania dan Viani.

Bagaimana Mungkin Aku Adalah Raja Iblis?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang