Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Menurutmu, apa yang akan kamu lakukan kalau ketenangan hidup kamu diusik dengan sedemikian rupa? Misalnya nih, kamu sedang bahagia sekali untuk menjalani hidup, bahkan rasanya sebuah bunga yang bergoyang di ujung taman bisa meningkatkan mood sangat drastis. Tapi setelah itu, tiba-tiba ada badai angin menerjang dan membuat kamu tidak bisa pulang dan akhirnya ditinggal sendirian. Bukannya itu menyebalkan? Parah, menyebalkan sekali sih.
Pasti yang pertama kali muncul di ingatan adalah ketakutan luar biasa sebab berada di kesendirian dan ditemani badai dahsyat yang bisa sewaktu-waktu merenggut nyawa dengan merobohkan bangunan yang kamu tempati sekarang dan kamu akan merasa kesal, sebab mengapa tak pulang lebih awal bersama yang lain. Lalu kedua, mengapa kamu tidak meminta tolong kepada orang lain yang mungkin akan membantumu untuk keluar dari sana.
Intinya sih ya, apa yang akan kamu lakukan kalau tiba-tiba nyawamu rasanya hampir direnggut oleh sang pencipta dengan berbagai cara yang ia punya? Apalagi melalui perantara teman atau sahabat sendiri? Kalau Aruna sih ya, rasanya ingin sekali Aruna pukul kepala bagian belakang sang pelaku perantara pencabutan nyawa selain malaikat itu. Kalau bisa pun, Aruna tebas kepalanya dengan sekali kibasan tangan. Sungguh, demi Tuhan. Kalau memang bisa pun pasti detik ini juga kepala Reksa sudah tidak berada di tempat yang tidak semestinya.
Masalahnya nih, Aruna sekarang merasakan bahwa nyawa dan kesadarannya benar-benar berada di ujung tanduk. Memang sih sekarang raganya sedang membonceng motor Reksa dengan tangan yang memegang erat jaket Reksa yang tak diresleting tersebut. Ya tapi kan matanya masih bisa melihat bagaimana Reksa berkali-kali membuatnya meninggal di tempat sebab Reksa terus menyalip kendaraan besar yang memang sering lewat pada jam sore dan seringkali mereka ada di sela-sela dua kendaraan. Memang gila. Sudah begitu Aruna dibawa mengebut pula.
Ketenangan Aruna kali ini pokoknya hanya datang sewaktu di parkiran sekolah, di pemberhentian lampu merah dan kalau sudah sampai rumah. Jangan lupa ingatkan Aruna untuk memukul kepala Reksa kalau sudah sampai rumah. Pokoknya manusia yang satu ini harus Aruna beri pelajaran setelah ini, nggak mau tahu!
Kamu tahu apa yang lebih menyebalkan lagi? Manusia yang memboncenginya ini agaknya memang sudah bosan hidup. Pasalnya, biasanya kalau orang mau menyebrang itu tengok kanan dan kiri, manusia yang satu ini hanya melirik ke kaca spion dan ke arah depan. Garis bawahi untuk melirik bukan melihat. Sudah gila rupanya memang. Jangan lupa ingatkan Aruna untuk membuat Reksa babak belur ya.
"Lo kalo mau mati, gak usah ngajak gue dong!! Gue masih pengen membangun masa depan tau nggak sih?!" omel Aruna kala kakinya akhirnya berhasil menapak di halaman rumahnya setelah perjuangan untuk membuat jiwanya tetap berada di tempat seharusnya.
"Siapa yang mau mati emang?" Pertanyaan Reksa sukses membuat Aruna mendelik kesal setengah mampus. Bagaimana tidak? Nyatanya pemuda menyebalkan itu sama sekali tidak memasang tampang bersalah malah justru tampak kebingungan. Sudah gila.
Langsung saja tanpa basa-basi, Aruna melepas tas yang sedaritadi bertengger di punggungnya lalu memukulkannya ke arah Reksa dengan membabi buta. Hey, ini tuh belum ada apa-apanya dengan perasaan hampir mati tadi tahu!
"Heh, sakit!! Gila ya?!"
"Iya, gila nih kenapa hah?! Gue hampir sinting gara-gara lo hampir bikin gue kehilangan nyawa selama di jalan tadi tau nggak lo?!"
"Emangnya gue ngapain – aduh!" kan. menyebalkan.
"Lo tuh tadi hampir bikin kita remuk kehimpit truk sama minibus tiga kali tau nggak sih, sa?! Udah gitu lo juga hampir bikin kita jatuh terus terpental gara-gara ada motor yang lajunya kenceng dari arah berlawanan. Lo udah gila gua rasa. Untung orangnya bisa ngerem!!"
Masih dengan Reksa yang mendapat serangan bertubi-tubi dari Aruna hanya saja bedanya kini ia sudah turun dari motor. Sebab kalau ia tak turun, bisa-bisa ia jatuh bersama motor kesayangannya dong. Waduh, membayangkannya saja sudah ngilu. Itu sih namanya nanti menjadi sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah dipukuli dengan membabi buta, eh setelah itu malah jatuh bersama motor kesayangan, kan tidak lucu.
"Gua rasanya pengen jadiin lo tumbal proyek jembatan belakang cluster biar mampus sekalian. Pulang sana lo! Kesel banget gue." Omel Aruna.
"Kalo gue jadi tumbal proyek, lo juga harus jadi tumbal proyek juga lah."
"Dih, buat apa coba gue tanya?!"
Bukannya langsung dijawab, manusia yang satu ini malah senyum-senyum macam gadis yang baru digombali dengan lelaki tampan dari kampung sebelah. Rambutnya ia sibakkan dan membuat dahinya terekspos selama seperkian detik dan Aruna sendiri sampai mengucap istighfar detik itu juga. Apa maksud ini?! Sogokan kah agar Aruna tidak marah lagi??
"Kan gue punya tujuan sehidup semati sama lo. Kalau emang jalan kita nggak nyampe nikah lagi. Boleh lah percepat aja yang penting sehidup semati." Katanya dengan bibir yang membuat lengkungan senyum jahil serta alis yang ia naik turunkan berkali-kali. Nggak jadi udahan deh marahannya. Kalau begini memang pantas rasanya kalau dijadikan tumbal proyek.
"Sinting lo! Balik sana!" bukannya pergi, Reksa malah tertawa terbahak-bahak sembari memegangi perutnya. Menjahili Aruna itu adalah bucket list yang harus dipenuhi setiap hari dan hari ini kalau dihitung-hitung sudah berkali-kali hal tersebut dilaksanakan. Bagus juga untuk mood sehari-hari.
"Lo nggak mau nawarin gue masuk dulu?"
"Nggak."
"Lo nggak mau nawarin gue minum dulu apa? Gue haus."
"Nggak."
"Serius nih gue haus."
"Ya terus?"
"Tawarin minum kek elah. Nggak peka amat jadi cewe."
Aruna total mendelik tajam. Marah. Manusia yang satu ini nampaknya memang gemar sekali mencari gara-gara ya. Rasanya bisa naik darah Aruna ini.
"Heh, Adhyasta. Rumah lo di depan rumah gue, itu di samping kiri tuh kalo lo nengok juga nampak gede banget rumahnya. Kenapa sih suka banget bikin gue kesel kaya cewe lagi pms?!"
Sekali lagi, bukannya pulang, manusia ini justru tertawa terbahak-bahak ditempat dan menatap Aruna dengan matanya yang menyipit sebab terlalu keras tertawa. Kata Bunda sih Reksa manis jadinya kalau tertawa lalu matanya langsung berbentuk menjadi segaris begitu. Iya sih, tapi kalau di kondisi seperti ini gemasnya hilang ditelan buana.
"Galak banget lo, macan cisewu. Iya nih gue balik."
Kamu tahu apa yang buat Aruna makin emosi? Ya mungkin bagi orang lain itu hal biasa sih, apalagi mengingat jarak rumah Reksa dan Aruna yang hanya beberapa meter. Tapi bisa nggak sih kalau bawa motornya itu dengan cara normal? Misalnya dinyalakan mesinnya sebentar atau bagaimana. Pasalnya, manusia yang satu ini membawa motornya dengan dituntun atau gambarannya, ia mendorong motornya sendiri begitu. Tidak ditunggangi. Agak bikin kesal soalnya sudah macam manusia yang kendaraannya kekurangan bahan bakar.
Ya Tuhan, semoga Aruna diberi kekuatan lebih banyak ya untuk menghadapi manusia yang menyebalkannya luar biasa macam Reksa begini
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.