Chapter 17. Kebenaran

259 28 0
                                    

Bibir kami berdua masih bersentuhan. Tidak ada tanda-tanda Viani akan melepaskan bibirku. Ia bahkan sampai memelukku. Itu adalah perlukan erat sehingga dadanya yang besar benar-benar menekan dadaku. Aku bisa merasakan payudaranya yang tidak mengenakan bra itu. Tapi, bukan saatnya untuk menikmati ini. Aku sama sekali tidak mengerti maksud dari Viani.

Kedua tanganku memegang samping perut Viani. Itu mengundang reaksi geli pada Viani, ia menggeliat ketika tanganku menyentuh perutnya. Setelah kedua tanganku menyentuh perutnya, aku mencoba mendorong Viani. Itu sangatlah susah. Entah bagaimana, Viani malah mempererat pelukannya.

Ciuman itu memang menyenangkan. Tapi, aku mulai sesak napas. Lebih tepatnya, aku kehabisan napas. Aku sama sekali tidak bisa menapas ketika Viani menempelkan bibinya ke bibirku. Aku suda mencoba benapas normal, tapi kenyataannya itu sulit. Aku baru mengetahui berciuman itu bikin susah napas.

Tak lama, Viani melepaskan bibirnya. Ia melepaskan pelukan eratnya itu. Aku dapat melihat dengan jelas air liurnya disudut bibir merah muda itu. Senyuman manis terlukis di bibir Viani. Ekspresinya menunjukkan kalau ia sangatlah bahagia saat itu.

Jelas sekali aku terdiam karena peristiwa yang baru menimpaku. Bagaimana tidak. Seorang gadis cantik yang seksi tiba-tiba menyatakan cinta dan menciumku. Siapapun akan terkejut dengan itu. Begitulah aku. Terdiam mematung karena terkejut setelah Viani menciumku.

Apa aku sudah mengambil rute Viani?

Itu adalah yang muncul di pikiranku. Mungkin aku baru saja mengambil rute Viani ketika mengambil minum.

Tapi, bukankah itu terlalu cepat? Bagimanapun, aku dan Viani baru bertemu sehari.

"Maaf atas kelancangan saya, Tuan." Viani membungkukkan badannya dihadapanku.

"Hah?" aku terdiam beberapa saat mendengar perkataan dari Viani. Ia kini memanggilku sama seperti Bella dan Desi. "Ngga apa-apa."

Itu sedikit membuatku bingung. Sebenarnya, itu hampir membuat kepalaku meledak. Entah aku telah mengambil rute Viani atau mengambil rute yang lainnya, itu membuatku bingung. Awalnya, aku mengira Desi adalah heroine dan hanya ada satu rute. Kemudian ada Bella yang membuatku merasa aku membuka rute Bella. Kini ada Viani yang tiba-tiba menyatakan cinta dan menciumku. Membuatku berpikir kalau aku membuka rute Viani.

Lebih baik aku tidak memainkan game yang harus memilih pasangan.

Ini mungkin karena aku yang selalu memainkan game-game yang mengharuskanku memilih jalur untuk memilih wanita pasangan. Aku hampir lupa kalau ini adalah kenyataan dan bukan game. Aku juga bukanlah karakter pria yang baik hati sehingga disukai oleh perempuan.

Atau, aku telah menempuh jalur harem?

Sialan. Pikiran kalau aku sudah membuka jalur harem malah muncul. Ya, jika dipikir-pikit, itu memang ada benarnya. Ada Bella, Desi, dan kini Viani yang entah mereka suka padaku atau tidak. Mungkin Tania akan masuk jajaran haremku tidak lama lagi.

Pikiran tentang aku yang memiliki harem langsung kutepis. Aku mencoba menjadi tenang tanpa memikirkan hal-hal itu. Memberikan sugesti pada otakku sendiri kalau aku hanyalah seorang siswa SMA biasa yang memiliki kehidupan klise. Sugesti itu dengan cepat menghentikan pikiran kotorku terhadap para gadis yang tinggal di rumahku.

"Saya akan mengatakan alasan sebenarnya mengapa kami menganggap anda sebagai tuan kami," ujar Viani yang berdiri tegap. Sikapnya sudah seperti Desi dan Bella yang mengenakan pakaian maid. Mungkin Viani akan mengenakan pakaian maid nanti pagi atau sore.

Aku memasang kedua telingaku untuk mendengarkan Viani. Setelah penantian yang panjang, aku mendapatkan alasan. Dua hari yang lalu, aku dibuat terkejut dengan pria asing yang berlutut di depanku. Kemudian, ada mereka bertujuh yang tiba-tiba muncul dan tinggal di rumahku. Aku akhirnya mendapatkan alasan kenapa kedamaianku hancur.

Bagaimana Mungkin Aku Adalah Raja Iblis?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang