JANGAN LUPA BINTANGNYA YAA READERS⭐
🇯🇵
Kinanti bersama koper abu abunya berlari menerjang badai hujan. Hatinya remuk redam, raga wanita itu terasa sangat ngilu di beberapa titik. Sisa sisa sentuhan Okada Hideo masih sangat terasa seolah menggerayangi langkahnya. Berkali kali Kinanti memukuli pakaian lusuhnya yang basah, berharap jejak jejak Hideo luntur bersama hujan.
Petir menyambar-nyambar membentuk kilat keemasan di langit legam yang tertutup kabut kelabu. Meredam teriakan seorang Kinanti Brawijaya yang begitu pilu. Orang orang seolah enggan keluar rumah malam itu. Tentu saja, orang bodoh mana yang sudi keluar rumah saat badai petir?
Dada Kinanti berdenyut tak karuan memikirkan kata kata Hideo yang seolah terus terngiang dalam kepala. Wajah bengis pria itu saat mengungkap rahasia besar Hiro terus membayangi langkah Kinanti. Jika kata kata itu benar adanya, Kinanti bersumpah akan membenci Yamada Hiro. Meski tak dipungkiri, rasa cinta masih terpatri begitu lekat dalam hatinya. Namun kala mengingat Hiro tega membunuh ayah Kinanti beserta keluarga Pradana, kesalahan itu tak bisa dimaafkan. Okada Hideo memang tak berbohong karena dalam pengaruh alkohol. Seseorang yang mengonsumsi alkohol dengan dosis berlebih, akan mengatakan isi pikirannya tanpa sadar. Kinanti tahu itu.
Tiba tiba kilasan memori tentang percakapannya dengan Hiro di pinggir sungai terlintas begitu saja. Saat Kinanti duduk di batu sungai setelah penguburan Adibrata. Hiro terlihat senewen.
"Aku akan mendengarmu bercerita tentang apapun sekarang.."
"Romo sedha.."
"Apa... ayahmu bersama keluarga Pradana saat itu?"
"Bagaimana kamu bisa tahu?"
Hiro tak menjawab, dia hanya melamun dirundung tatapan menyesal..
"Hirochan!" "Kamu baik baik
saja?""Kinanti, aku ingin mengatakan sesuatu." Dia seperti ingin mengatakan sesuatu namun urung.
"watashi, Anata o aishiteimasu.."(aku mencintaimu). Dan hanya itu yang terucap.
Kinanti menyeka air mata dengan kasar. Tak salah lagi, Hiro tahu tentang sebab kematian ayahnya. Tak terasa Kinanti sudah berada di depan rumah mendiang orangtuanya, rumah semasa kecil. Dengan mengendap, Kinanti melewati halaman belakang yang memang tak terkunci. Meski tubuh kecil itu menggigil kedinginan, tetap dipaksa melangkah menuju kamar. Dan ruangan ini tak berubah. Masih berseprei biru muda seperti saat ia tinggalkan. Kembali air mata berjatuhan, mengenang masa masa indah bersama Romo, ibu, dan mas Dhanu. Entah bagaimana perasaan kedua orangtuanya jika tahu putri bungsu mereka menikah dengan orang yang tega memporak porandakan keluarga mereka. Entah bagaimana pula nasib Dhanu, kakaknya.
Kinanti merasa sangat marah pada dirinya, ingin sekali mengakhiri penderitaan ini, mengakhiri hidupnya. Namun manakala Kinanti teringat si jabang bayi yang singgah di rahimnya, perasaan itu luruh begitu saja. Meski kini membenci Hiro, tak terpikir sedikitpun Kinanti ingin menggugurkan janin tak berdosa itu. Bayi itu miliknya, darah dagingnya. Ya... anggap saja begitu.
Ingatan tentang kenangan manis dengan Hiro, dia buang mentah mentah. Menyisakan rasa sakit yang teramat sangat. Jika pertahanannya mulai goyah, Kinanti mengingat kembali bagaimana Hiro menghancurkan kebahagiaan keluarganya hingga tak bersisa. Setelah ini Kinanti berjanji akan mencari kakaknya, kemanapun.
Diambilnya puluhan lembar gulden dalam lemari kayu. Tabungan sejak remaja, dan kini diperlukan. Dan Kinanti tak menyangka uangnya sudah sebanyak ini. Wajah kusutnya kembali semringah, namun tak bertahan lama saat terdengar suara langkah terseok dari pintu belakang.

KAMU SEDANG MEMBACA
𝐋𝐨𝐯𝐞 𝐢𝐧 𝐖𝐨𝐫𝐥𝐝 𝐖𝐚𝐫 𝐥𝐥
Historical FictionCERITA SEDANG HIATUS Indonesia, 1943 Berwajah datar, dengan hati sekeras baja adalah pesona Nakamura Yamada Hiro. Putra seorang petinggi Dai Nippon yang diutus memimpin pasukan ditanah bekas jajahan Belanda. Hidup keras bukan lagi hal asing baginya...