Chapter 23. Pengetahuan Si Serakah (Part 3)

173 17 1
                                    

"Jangan bercanda!" teriak Firman dengan sangat keras. Suaranya membuat seluruh siswa mengarahkan pandangannya ke Firman. Bahkan, siswa yang sedang melewati kelas langsung melihat sumber suara, Firman.

Napas Firman terengah-engah. Wajahnya nampak terkejut seakan baru saja bertemu dengan hantu. Terutama matanya. Ia melebarkan matanya, membuat kedua natanya seakan bisa melompat dari rongga mata kapan saja. Ia mengatupkan giginya. Mencoba untuk menjadi setenang mungkin.

Ini seperti yang sudah kuduga. Firman pastilah sangat terkejut dan tidak akan percaya. Itu akan terjadi bila seseorang dengan kehebatan yang luar biasa tiba-tiba dilampaui oleh orang yang ia remehkan. Seperti itulah kondisi Firman. Firman merupakan sosok yang hampir mendekati Maha Tahu, tiba-tiba harus kalah oleh diriku. Sungguh sebuah lelucon yang konyol jika itu adalah kenyataan. Tidak, ini adalah kenyataan, walau ini settingan.

Namun, bukan hanya Firman yang tidak percaya. Feri, Zebian, dan hampir seluruh siswa yang ada tidak percaya dengan apa yang mereka dengan. Aku, siswa yang selalu remed dalam mata pelajaran matematika, tiba-tiba mendapatkan nilai sempurna. Itu tidaklah masuk akal jiia dipikirkan. Siapapun pasti akan berpikir begitu.

"Kau tidak percaya itu, Firman?" tanyaku sembari berusaha memasang senyuman licik. Jujur saja, aku tidak begitu pandai menyamarkan senyuman.

Firman langsung menengok ke arahku. Matanya masih melebar sehingga aku takut kalau bola mata itu akan keluar dari tempatnya. Ekspresi keterkejutannya tidak menghilang. Malahan, itu semakin terlihat jelas. Ia seakan baru saja mendapatkan kejutan yang paling buruk di hari ulang tahunnya. Apalagi, ia sampai mengigit lidahnya untuk kembali ke kenyataan.

Darah mengalir di sudut bibir Firman. "Tentu saja aku tidak percaya! Mana mungkin kau bisa menuntaskan semua soal itu."

Seluruh siswa sekarang bukan hanya memandang Firman saja, tapi mereka juga memandangi diriku. Jujur saja, itu sangatlah memalukan. Ini bagaikan berjalan dengan resleting celana terbuka lebar. Memperlihatkan celana dalamku kepada orang lain. Sungguh memalukan untuk menjadi pusat perhatian. Makanya, aku selalu berusaha untuk bersikap mencolok.

Terkadang, aku kagum dengan orang yang berpenampilan mencolok. Mereka pasti selalu menjadi pusat perhatian. Itu pastilah sangat memalukan. Aku kagum mereka bisa menahan itu semua. Jika itu aku, aku pasti sudah memasangkan tali gantungan di leher. Atau begitulah yang kupikirkan.

"Kenapa kau tidak melihat hasilnya?" saranku kepada Firman.

Jelas itu bukanlah langkah yang buruk, tapi itu juga bukanlah langkah yang baik. Aku tidak tahu apakah Sorizan akan menukar kertas jawabanku. Mungkin soal yang ada di kertas jawaban masih soal yang kukerjakan. Jika itu benar, maka aku akan tamat. Tapi, aku percaya pada diriku sendiri. Sorizan pasti akan menukar kertasnya dengan soal yang sama seperti yang lain. Jika tidak, seluruh rencana ini tidaklah ada gunanya.

Firman mendengus kepadaku. Wajahnya terlihat kesal. Itu nampak seperti asap keluar dari hidungnya ketika ia mendengus. "Baiklah!"

Lelaki berkacamata itu berdiri. Ia melihat penampilanmya sesaat kemudian melangkah ke depan. Langkah kakinya menuju Pak Solihin. Itu adalah langkah kaki yang berat. Suaranya bahkan menusuk telingaku dengan kerasnya. Seakan sebuah bom hidrogen baru saja terjatuh tepat sepuluh meter di depanku. Ya, Firman sendiri bagaikan bom yang bisa meledak kapan saja.

Setelah beberapa langkah, Firman sampai tepat di depan Pak Solihin. Ia meminta kertas jawaban yang kukerjakan. Pak Solihin dengan senang hati memberikannya. Ia bahkan memasang senyum ramah di bibirnya.

Setelah diberikan kertas itu, Firman melihatnya. Kedua matanya melihat dengan sangat teliti di setiap bagian kertas. Bukan hanya sekali, tapi ia melihatnya selama tiga kali. Namun, itu nampaknya belum cukup. Ia melihat lagi dan melihat lagi. Wajahnya semakin terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dapat terlihat keringan berjatuhan dari wajahnya yang tampan itu. Tangannya bergetar. Tidak, tubuhnya bergetar hebat.

"Ti-tidak mungkin! Ini tidak mungkin!" gumam Firman dengan suara yang cukup keras. Entah itu bisa disebut gumaman atau bukan. "Tidak mungkin ada manusia yang bisa menyelesaikan soal ini. Bahkan, aku saja tidak bisa."

"Sekarang, kau percaya?" tanyaku kepada Firman yang masih meneliti soal itu.

"Hanya ada tiga sosok yang bisa menyelesaikan soal ini. Sang pembuat soal, Tuhan, dan--." Firman tiba-tiba menengok ke arahku. Wajahnya masih memasang ekspresi terkejut dan tidak percaya, tapi sekarang itu sudah pada tahap mengerikan. "Raja Iblis."

Tiba-tiba, keempat wanita yang berkonspirasi dibalik ini semua tersenyum. Mereka memasang senyuman yang mengerikan. Senyuman itu berisi teror yang bisa membuat manusia mati di tempat. Itu adalah senyuman mengerikan yang seharusnya tidak ditampilkan oleh wanuta cantik.

"Ara-ara~ Ada apa, Firman?" tanya Viani menyembunyikan senyumannya dengan tangan kanan. "Apa kau meragukannya?"

"Padahal sudah ada bukti, tapi kau masih tidak percaya?" tambah Tania yang mengangkat kepalanya sembari menunjukkan senyuman mengerikan itu.

"Benar-benar jenius yang busuk! Aku mulai malas denganmu." Bella menaruh kepalanya di atas tangan, mencoba tertidur.

Itu benar-benar mengerikan. Perkataan mereka, senyuman mereka, dan ekspresi mereka, semuanya mengerikan. Itu benar-benar memberikan teror yang sangat menakutjan. Itu seakan-akan kita sedang dikejar oleh seorang pembunuh berantai.

Firman yang melihat dan mendengar itu terdiam di tempat. Entah ia bisa membantahnya atau tidak, ia pasti sangatlah terguncang. Tubuhnya saja masih bergetar. Apalagi keringat semakin deras berjatuhan ke lantai. Bahkan, seragam yang dikenakan Firman mulai basah. Ekspresinya juga tidak berubah. Itu malahan berada ditingkat yang lebih ekstrim.

"Tenanglah, Firman!"

Dengan kata-kata itu, Feri berhasil membawa Firman kembali ke kenyataan. Firman kembali tersadar dan mengatur dirinya yang terguncang. Ia membasuh wajahnya yang penuh dengan keringat dingin menggunakan sapu tangan yang ia ambil dari kantongnya. Kacamatanya juga dibersihkan karena keringat mengenai lensa kacamata itu. Setelah itu, Firman mendapatkan ketenangannya kembali.

"Katakan padaku kenapa kau seperti itu!" pinta Feri dengan suara tegas.

Terdengar suara hembusan napas panjang dari Firman. Ia mungkin sedang mengatur detak jantungnya. "Ini adalah sebuah kemustahilan bagi kita semua."

"Apa itu?"

"Soal ini berisi rahasia alam semesta yang begitu banyak. Soal yang hanya bisa dipecahkan oleh tiga orang, termasuk yang menbuat soal itu. Soal ini seharusnya tidak bisa dipecahkan oleh manusia walau hanya lewat keberuntungan saja. Untuk menjawab soal ini, orang itu harus berada pada tingkat Maha Tahu," jelas Firman dengan suara yang cukup tenang. "Aku saja yang berada pada tingkat hampir Maha Tahu tidak bisa menyelesaikan soal ini."

"Jadi, kesimpulannya?"

Pertanyaan Feri mengundang senyuman dari keempat wanita itu. Mereka semua menunggu jawaban dari Firman. Tidak, mereka sudah mengetahuinya. Mereka hanya ingin mendengarkannya secara pasti. Karena itu pastilah sangat menyenangkan, terutama untuk Desi. Jika jawabannya seperti yang mereka perkirakan, hanya tersisa Zebian dan Feri untuk ditangani.

Hembusan napas panjang kembali terdengar dari Firman. Ia menaruh kertas jawaban yang dipegang ke meja guru dan menyilangkan tangannya layaknya seorang pelayan. "Aku mempercayai kalau Devan adalah tuanku yang telah kucari selama ini."

Keempat wanita itu langsung berteriak gembira. Mereka tidak memperdulikan sekitarnya. Mereka hanyalah gembira dengan rencana yang berhasil ini. Itu mungkin adalah pencapaian pertama mereka di dunia ini. Operasi Tes Raja Iblis, begitulah mereka menyebutnya, berhasil dengan sempurna.

Semuanya telah berusaha dengan baik.

Di tengah kegembiraan yang mulai memudar itu, Viani menundukkan kepalanya. Ia menatap lantai dan sepatu yang dikenakan olehnya hari ini. Tatapannya seakan sedang mengkhawatirkan sesuatu. Tidak, dirinya memang mengkhawatirkan sesuatu. Khawatir dengan masa depan yang akan datang.

"Tersisa satu event lagi, ya?" gumam Viani memikirkan apa yang terjadi. Yang ia pikirkan adalah masa depan mengerikan bagi salah satu dari mereka. "Aku harap Feri baik-baik saja."
----------------------------------
Kalau kalian merasa penggunaan kata 'Tuhan' itu berlebihan, kalian bisa menggantinya dengan kata 'Dewa' atau sebagainya.

Bagaimana Mungkin Aku Adalah Raja Iblis?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang