Hai!
Ketemu lagi di part 2
Semoga enjoy sama cerita Rasta dan Ro
^_^-----------------------------------------------------------------
"Sudah lega?"
Rasta hanya menjawab dengan menghela napas, sekarang kami sudah kembali ke rumah. Saat di depan makam Ibunya tadi, aku sempat melihat matanya yang berkaca kaca. Aku tau bagaimana rasanya berada disituasi seperti itu, terlebih lagi aku baru saja ditinggalkan oleh Ibuku.
Aku masih terkejut, ternyata Rasta membawaku ke sana. Aku tidak berpikir ada hal yang begitu penting bagi Rasta sampai dia menunjuk sebuah pohon milik Ibunya.
Tepat di bawahnya terdapat sebuah bangunan kecil tempat Ibu Rasta dimakamkan, bangunan berwarna putih gading itu terlihat sangat bersih terawat, tidak ada rumput atau daun kering yang berjatuhan.
Entahlah, di awal perkenalan antara aku dan dia begitu emosional. Tapi ini terlalu cepat bagiku untuk sangat peduli, aku harus benar benar memastikan, seperti apa kepribadian Rasta.
"Istirahatlah Ro, dalam 2 hari ini kau sudah mengalami hal hal yang sulit"
"Ya ... benar, aku masih tidak menyangka hal seperti ini bisa terjadi"
"Maaf..."
"Harusnya dari awal kata itu kau ucapkan"
"Bukan, aku tidak meminta maaf atas perbuatanku kemarin. Aku hanya, ah, maksudku, maaf aku tadi pasti terihat sangat buruk"
Aku mendengus, aku salah menyangka dia akan menyesali perbuatannya.
"Kau benar, untuk apa menyesali penculikan itu, merenggut kehidupan seseorang terlihat mudah ya di matamu"
"Tidak juga, ini pertama kalinya aku melakukannya, sudahlah, tidur saja sana. Aku harus mengurus beberapa hal lagi. Ingat? besok hari pernikahan kita"
Ya Tuhan! aku hampir melupakan fakta itu, kejadian tadi benar benar menarik seluruh perhatianku sampai sampai melupakan hal sepenting pernikahan.
Memang aku tidak mengharapkan pernikahan ini, tapi tetap saja akan berdampak pada kehidupan dan statusku selanjutnya. Jadi, dengan terpaksa aku menganggap besok adalah hari yang penting.
---
Tubuhku kini sudah terbebas dari gaun pengantin, berganti dengan air busa serta wewangian dari aromaterapi yang menguar di seluruh kamar mandi.
Hampir satu jam, aku memutuskan untuk berhenti berendam mengingat waktu sudah hampir melewati tengah malam.
Saat keluar dari kamar mandi, aku melihat Rasta sedang duduk di sofa kamar sambil menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor, sebenarnya dia memiliki kepribadian workaholic atau memang hal ini sengaja dia lakukan agar terlihat sibuk untuk menghindariku. Entahlah, harusnya aku tidak perlu peduli.
Tanpa mengindahkannya, aku melewatinya begitu saja menuju ruang ganti, barulah disana aku bisa bernapas lega. Pasalnya aku hanya menggunakan jubah mandi, meskipun dia sudah menjadi suamiku, tetap saja aku merasa hal ini masih tabu.
Baiklah, mulai sekarang aku harus lebih berhati hati. Aku mengambil piama tidur sambil berusaha untuk tidak melihat ke arah deretan lingerie yang tergantung rapi disebelahku. Aku sampai bergidik, sebab hal ini sangat asing di mataku.
Berbaring adalah hal yang sangat ingin kulakukan sekarang, berharap agar tertidur saat ini juga. Jujur saja, aku sangat lelah, tapi banyaknya hal yang kupikirkan membuat rasa kantuk tidak juga hadir.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kita Rasa dan Percaya
RomanceDia seorang perasa, namun sulit untuk mengungkapkannya. Terkadang, entah sengaja atau tidak dia membiarkan apapun itu terjadi begitu saja, khususnya tentang percintaan. Sebab menurutnya, dalam hal ini jika dia memutuskan untuk terjun ke dalam sana...