"Ini pak Wira, temen bapak."Pria paruh baya berkaos maroon itu berjongkok di hadapan gadis kecil. Gadis kecil itu tersenyum dan memperkenalkan namanya. Kilasan berganti,
"Sinta Bapak kamu, maaf om tidak bisa menolong."
Gadis tersebut menangis mendengar penuturan tersebut. Kilauan cahaya menembus retina matanya.
"Ikut dengan om ya?"
Om dan tante yang baik hati. Itu yang dia pikirkan. Jika ada predikat malaikat, dengan sungguh ia akan beri kepada mereka berdua.
"Sinta ingat wajah Ibu?" Tanya Tante baik. Dibalas anggukan antusias Sinta. Tante memberika secarik foto masa muda Ibunya. Rambut bergelombak dengan senyum secerah langit pagi. Cantik.
"Aku habis dari makam, engga ada satupun yang tau." Tante tersebut tersenyum manis. Bangga dengan gadis di hadapannya ini.
...
Niatnya Nagita ingin pergi ke toko listrik. Ia ingat kalau stop kontak di kontrakannya sudah rusak. Untung saja yang rusak stop kontak kabel jadi tidak usah repot cari tukang listrik.
"Koh Stop kontak yang 4 lubang ada?" Tanya Nagita.
"Yang bagus punya atau biasa neng?"
Nagita menimang sedikit. Takutnya kalau yang murah malah cepat rusak.
"Sekalian bagus aja deh sama yang ada on/off nya koh."
Kokoh tadi bakik ke dalam mengambil benda yang dimaksud. Pundak kirinya di sentuh orang asing.
"Sal!!"
"Ngapain?"
Cukup terkejut bertemu dengan Sally, begitupun sebaliknya.
"Harusnya aku yang nanya. Ngapain malem malem nyasar ke bogor gini?" Sally menyentil dahi Nagita gemas.
"Lebay ih, lagi pula Bogor jagakarsa ga jauh jauh amat."
Sally emang begitu, alay. Ingat sebulan lalu dia bilang Jakarta-Bogor? Padahal rumah Irene di daerah Selatan Jakarta.
Dari rumahnya kerumah Sally pun engga sampai sejam!
"Stop kontak rusak, aku cari di sekitar rumah tutup semua. Tanggal merah gini."
Sally menganggukan kepala. Engga tau mau resoon apalagi.
"Ohh, aku nyari alat praktikum Yaya. Nyebelin emang h-1 baru bilang."
"Koh, sekalian Bohlam kecil nya tiga sama kabel yang ukurannya cocok dua meter ya. Kalo ada baterai besar, saya ambil 2 ya." Pinta Nagita kepada penjaga toko.
Wajah Sally menggambarkan kebingungan yang kentara. Dia kira Nagita tidak pernah praktek kimia apa gimana. Jelas tau lah.
"Nih neng, ada lagi?" Si Kokoh berambut putih itu memberikan pesanan Nagita. Nagita meneliti takutnya ada yang kelupaan.
"Berapa nih koh jadinya?" Tangannya meraih dompet di sling bagnya. Mengeluarkan secari uang berwarna merah dan biru.
"Punya Yaya aku yang bayar kak."
Tangan Sally menahan jemari Nagita yang ingin memberikan uangnya. Nagita menatapnya malas. Ayo lah hal seperti ini saja masa harus di perdebatkan.
"Sal..."
...
Sinta ditarik ayah menjauhi rumah sederhana tersebut. Semua indranya merasa sakit.
Matanya tak kuasa menahan tangis melihat Ibunya disana. Menahan gejolak besar saat melihat ibunya tergugu.
Tangisnya meledak saat itu juga, ia dapat mengecap air matanya sendiri. Rasa asin membias menjadi pahit seakan mengerti perasaanya.
Tangan kirinya ditarik ayah sampai terasa nyeri. Secara sadar Sinta akan menahan kakinya bergerak. Tapi logika tak sejalan dengan hati. Kakinya terus berjalan seiring tarikan ayahnya mengeras.
"Maafin aku Ibu—"
...
"Git aku kangen bapak. Terakhir kali liat bapak, ga pernah."
Nagita termenung menatap Sally. Dia paham apa yang Sally rasakan.
"Kata Ibu, bapak itu orang baik. Beliau sayang banget sama aku Yaya juga. Ibu bilang bapak sibuk kerja buat beliin aku mainan. Waktu kecil aku percaya. Setiap sore sampai tidur aku nunggu bapak pulang. Setidaknya sehari aja harapanku tercapai."
"Pernah suatu hari, saking lelahnya aku nunggu bapak pulang. Aku marah sama ibu, aku bentak ibu. 'Kata ibu ayah kerja buat belikan mainan. Tapi kenapa aku tunggu tiap malam tidak pernah pulang!' Tau ngga reaksi ibu apa?"
Sally menunggu tanggapan Nagita sebelum lanjutkan bercerita.
"Bapak kamu tidak mau ngasih mainan jelek untuk anaknya. Pasti dia kerja keras banget buat kamu dan Yaya senang. Nanti kalau udah besar kamu akan paham. Kata Ibu begitu."
"Bener. Sekarang aku paham. Susahnya nyari duit, banting tulang hidupi keluarga. Tapi bukan hanya itu. Aku paham, kalau perginya bapak bukan untuk kembali."
"Bapakku bukan sosok hero kaya di cerita anak lain kak. Bahkan aku engga tau wujudnya seperti apa."
"Ada satu sisi aku benci sama bapak. rasanya aku mau teriak, Bapak kami butuh kamu! mana tanggung jawabmu sebagai kepala keluarga! Ngeliat Yaya di cibir karena ngga punya sosok bapak udah cukup menyiksa."
"Aku pun. 'Sally tidak punya bapak, tidak usah ditemani' Bahkan sampai sekarang masih aku ingat jelas."
Sudah tidak terhitung air mata yang keluar dari mata Sally. Reflek Nagita memeluk Sally. Sally sebenernya hanya gadis lemah. Hanya di depan Ibu dan Yaya dia pasang topeng. Berupaya jadi sosok pelindung keluarga, padahal orang yang paling jatuh mengetahui bapak meninggalkannya.
"Kamu hebat." Gita membisiki Sally.
Bisikan kecil yang penuh suport.
"Kamu kuat Sally."
"Ibu pasti bangga liat kamu tumbuh se dewasa ini."
"Yaya pasti bisa nyombongin kamu ke temannya. Kalaupun dia ngga punya ayah, dia punya kakak cantik yang bisa di puja."
Tangan kanannya mengelus punggung Sally, kirinya menepuk bahu menenangkan Sally.
"Selain itu, aku kangen sama dia."
maaf ...
❐ Mission Completed.
