Dua; hampir

31 6 0
                                    

Dua pria akhirnya muncul di hadapan Gentala secara tiba-tiba. Sejak tadi, Genta sudah menunggu kedatangan mereka di taman belakang sekolah ini untuk menerima laporan skornya.

Genta berdecak. Kenapa Sakti harus membawa Dewa menemuinya? Bisa Genta lihat tatapan mata Dewa yang menatapnya rendah. Namun, ia tidak peduli sama sekali.

"Gen, kita datang untuk kasih tau kalau lo lolos babak ini. Selamat! Pertahanin, bro, karena tinggal dikit babak yang tersisa," seru Sakti bersemangat. Pria bermodel rambut curtains itu menyerahkan sebuah map laporan berwarna merah.

Genta mengambil alih map itu dengan percaya diri.

"Misi selanjutnya udah ada di sini, 'kan?"

"Yaa.. biasanya memang gimana? Nggak perlu nanya kali," sela Dewa sewot. Genta melayangkan pandangan tak kalah tajam padanya.

"Mau mastiin aja, sih. Sewot banget," balasnya sarkas.

"Setop woy. Mancing-Mancing mulu lo Dew," lerai Sakti akhirnya. "Udah nih, urusan gue sama Dewa udah. Sekarang kita pamit dulu. Gue juga masih banyak urusan," jelas Sakti mengakhiri.

"Sip. Thanks, Sak," balas Genta singkat. Tak sekali pun ia berniat berterima kasih pada Dewa. Dengan malas Dewa mengambil lagi tongkatnya dan mereka melebur menjadi bayangan dan menghilang.

Genta membaca laporannya. Ia memperhatikan catatan khusus yang diberikan guru-guru sihirnya. Mayoritas isinya pujian.

Tidak heran. Sejak kedatangannya ke bumi, Genta tidak pernah absen dengan misi-misinya. Dengan kemampuan sihirnya, apa pun bisa ia lakukan.

"'Lenyapkan sebelum dilenyapkan'?" Ia membaca misinya pelan, berusaha mencerna maksudnya. Firasatnya mulai tak enak.

Lenyap? Apa akan ada pembunuhan di sini?

Tak mau pusing, Genta menutup map tersebut. Ia akan memikirkannya lagi setelah sampai di rumah. Untuk saat ini, dirinya hanya butuh asupan. Dan tempat terbaik adalah kantin.

--

"Lo dengerin gue nggak sih?" kesal Mentari yang merasa diabaikan padahal sudah bicara panjang lebar. Yang diajak bicara malah sibuk toleh kanan-kiri bak mencari sesuatu.

"Tunggu, Tar. Gue kayak lihat ada orang tadi di sini," balas Abel berusaha meneliti setiap sudut taman ini. Abel seratus persen yakin dia melihat figur itu di sini.

Mentari makin bingung dibuatnya.

"Lo cari siapa sih?"

"Ih... itu... tadi gue lihat Genta. Sebentar deh," gadis kuncir kuda itu tiba-tiba melenggang pergi meninggalkan temannya di belakang.

Mentari yang tak mau repot memilih duduk di bangku taman sambil memainkan ponsel menunggu Abel kembali.

Abel berlari menghampiri persimpangan antara taman dan lorong kelas. Di sana ia berhasil mendapati Genta sedang berjalan memunggunginya. Abel memelankan jalannya, menunggu sampai jarak mereka cukup dekat baru ia akan memanggil namanya.

Hampir sampai. Dilihatnya Genta berbelok ke kanan ditelan tembok. Abel segera menyusul.

Begitu ia sampai dibibir lorong, Abel mengurungkan niatnya.

Pria itu sudah tidak ada. entah berbelok ke mana lagi. Perginya cepat sekali.

Sayang seribu sayang Abel kehilangan jejak. Padahal dia baru saja ingin meminjam catatan kelas 11 Genta.

Beyond (+ Acrimonious) | SHORT STORIESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang