Kaki terhentak keras, dengusannya terus terdengar seolah diri siap menerjang kain warna merah dengan tanduk mencuat dalam halusinasi menghiasai. Memejamkan mata sejenak sebelum melirik kebelakang ada makluk menjulang tinggi mengikuti tiap langkahnya.
Ingin berlari, si tinggi mengikuti. Bergerak lambat, si tinggi otomatis bersikap menyiput pula, lambat. Kekehan menyebalkan itu sungguh mengganggunya.
Jihoon mendengus lagi untuk kesekian kali.
"hati-hati, ada jalan."
"tentu saja ada jalan!"
"hei, kakimu dua."
"kau pikir kakiku selama ini ada berapa?!"
"ada empat. Ditambah aku disisimu. Sedangkan aku ada dibelakangmu sekarang, jadi itu terlihat tidak sempurna."
Ia tertawa hambar. Perkataan apa itu? Sama sekali tidak nyambung.
"Jihoon ada yang tertinggal." Sontak ia membalikkan tubuhnya.
"jejakmu."
Absurd sekali. Abaikan lelucon remaja yang satu ini.
"Ji, awas!"
"apa lagi!!?"
"nanti kau tersandung dengan pesonaku."
"argh!!"
Jihoon melajukan langkahnya, meninggalkan Younghoon yang kini setia melakukan hal yang sama, hanya saja menjaga jarak tetap dibelakang.
Kini tujuan sudah di depan mata. Bunyi ambulance juga tertangkap rungu.
Rumah sakit.
Ingin menyusul Daniel yang masih dirumah sakit, pria itu bilang tidak bisa menjemputnya. Jihoon yang memang ingin sekali bertemu Daniel dalam artian ia merindu, berniat menghampiri pria itu. Memberi kejutan kecil, untuk kekasihnya. Aduh!
Dan jarak sekolah ke rumah sakit lumayan jauh, kebetulan uang sakunya habis. Lalu pemuda manis ini memilih berjalan kaki saja. Tapi siapa sangka, Younghoon mengikutinya. Hingga ia sadar diikuti seperti di untit seseorang.
"itu rumah sakit." ujar Younghoon menyamai langkah keduanya memasuki perkarang luas itu.
"yang bilang ini agensi entertainment siapa?"
"maksudku, kenapa kesini?" jengah Younghoon yang selalu mengirit ucapan padahal bermaksud menanyakan suatu hal. Ia seperti enggan berbicara panjang lebar.
"donor jantung." asalnya malas setelah memasuki lobi.
"oh. Semoga pahalamu sudah cukup."
Jihoon menghentikan langkahnya, menghela nafas sebentar dan kemudian berbalik menatap temannya yang kini balas menatapnya dengan tampang datar.
"pergilah, kau tidak ada urusan disini."
"ada. Kau."
Alisnya berkedut marah, "Younghoon, sudah. Disini saja, kau sudah mengantarku dengan selamat. Kau bisa pergi." ujarnya tenang setelah meredakan panas pada puncak kekesalan yang mendera.
"ini bukan rumah. Artinya, tugasku belum tuntas."
Tampaknya Jihoon sudah ingin menjambak rambut temannya ini agar paham bahwa ia tidak memerlukan kehadirannya lagi. Jihoon mengusir Younghoon! Kenapa pemuda tinggi ini tidak paham juga kalau Jihoon merasa tidak nyaman tiap disekitarnya?
Kedua matanya bergerak cepat, otaknya kini mencari kata untuk bisa membuat Younghoon pergi dari sini. Tepat saat melihat orang yang dikenalnya melambai dengan senyum merekah, jangan lupakan gigi kelinci itu terlihat, sontak Jihoon mendapatkan ide.

YOU ARE READING
Get Closer (NIELWINK) I√
Fiksi Penggemar(COMPLETED) 🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞 Jihoon membenci rintikan air. rintikan air itu membuatnya kehilangan dunianya, kakek yang menjaganya dari lahir. orang tua? hahaha jangan membuatnya mendengar pertanyaan itu. Wajah mereka bahkan ia tidak tahu. hidup seoran...