Chapter 5

1.6K 139 10
                                    

"Tuan Hokage?"

.

.

.

Matahari telah sepenuhnya sirna ditelan gelap. Naruto masih membisu, mengamati lekuk wajah dari bocah di hadapannya. Memeta sayu perubahan signifikan yang baru saja ia lihat. Menma memandang penuh kebingungan padanya. Mata biru itu meredup khawatir akan tingkah lakunya. Dan yang bisa ia lakukan hanya merunduk menyembunyikan sendu dari sosok yang mengingatkannya akan cinta lama.

"Tuan Hokage? Anda baik-baik saja?". Kekhawatiran itu akhirnya keluar dalam bentuk tanya. Menyentak Naruto yang masih terlarut dalam luka.

Menma menyeka keringat dingin yang mengalir dari pelipis sang idola. Membenahi letak rambut yang masih berantakan akibat terjangan dari sang Kage Konoha. Dengan teramat perhatian, bocah itu menenangkan air mata yang mengalir dari dua mata biru sama seperti miliknya. Menma tak tahu, tapi kesedihan itu seolah merasuk jauh dalam jiwanya.

Sang pahlawan perang Shinobi ke-4 menyimpulkan senyum. Menenangkan kekalutan pada mimik wajah itu. Dirinya seperti orang bodoh sekarang. Hatinya bagai diterpa bimbang tak berkesudahan. Beribu tanya segera menyergap. Memenuhi pikiran. Merongrong untuk segera dikeluarkan. Bocah dalam lingkup pandangannya, bagaimana bisa begitu membuatnya ingat akan Sasukenya. Orang yang selama ini ia cari namun tak pernah ditemui keberadaanya.

"Ah! Maaf", Naruto tak pandai berucap. Semua buncahan rindu itu tertelan kembali dalam ternggorokan. "Maaf. Kupukir kau seseorang yang kukenal."

Berkedip dua kali, dia tidak begitu mengerti dengan kalimat maaf yang baru saja sang Hokage katakan. Itu seperti sesuatu yang bersifat pribadi, dan tak boleh siapapun mengerti. Termasuk dirinya. Tapi mendengar isak tangis seperti itu, mungkinkah, "Apa orang itu berharga bagimu?"

Naruto tersenyum setelah tersentak untuk kali kedua. Tak menyangka pertanyaan semacam itu keluar dari bibir mungil yang masih belia. "Yah... begitulah."

"Wahhh...", binar matanya teramat terang. Mengalahkan rembulan yang menampakkan diri perlahan. "Siapa namanya?"

Masih dengan posisi semula. Naruto menjawab setiap tanya guna memenuhi rasa penasaran Menma. Anehnya, ia tak merasa keberatan. Padahal, siapapun yang mengusik tentang masa lalunya, pasti berakhir dengan dirinya kembali menelan duka. "Sasuke. Namanya Sasuke."

"Eh? Sasuke? Seperti nama ibuku."

Naruto mengerjap. Seluruh dunianya seolah senyap. Kata-kata Menma barusan memukul kewarasan, telak. Seperti nama ibuku.

Reflek Naruto bergerak seketika. Wajah itu direnggut paksa. Menelisik kiranya apa yang bisa ia jadikan bukti nyata. Bahwa pernyataan Menma bukanlah bohong belaka. Bisakah ia berharap, bahwa Sasukenya adalah Sasuke yang ingin ia jumpa?

Menma tergugu. Mimik mukanya merengut lucu. Tak mengerti mengapa sang Hokage begitu antusias meraba bagian wajahnya seperti itu. Seolah dirinya mengingatkan akan sesuatu. Atau ia baru saja mengatakan hal yang membuat orang nomor satu sepertinya menampilkan ekspresi kaku?

"Ah! Jangan-jangan, Sasuke yang Anda maksud, ibuku ya? Anda kenal ibuku?". Tak mau mati penasaran. Si bocah mengeluarkan pendapat. Sedang Hokage makin terhenyak. Dia, Menma bukan Sasukenya. Tapi Menma adalah apa yang Sasuke persembahkan untuknya.

"Astaga...!!! Ahahaha....". Tawanya tidak natural. Diselingi lelehan air mata yang menguras segala resah. Inikah penantian yang selama ini ia tunggu? "Ahahaha...."

"Tuan Hokage, kenapa tertawa?"

.

.

.

LUKA |EndTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang