Lynz23
- Reads 2,146
- Votes 315
- Parts 16
Di antara dengung gamelan dan bisik angin di Trowulan, sebuah janji terpatri bukan pada prasasti batu, namun dalam samskara, pada dua lembaran tak kasatmata-dua jiwa yang abadi.
Takdir, bagai pengalihan cerita yang tak terelakkan, mempertemukan kembali tanpa nama dan gelar. Dalam pertarungan antara dharma dan kama, antara kewajiban pada masa lalu dan hasrat di masa kini.
Namun, seni hadir sebagai pengikat sekaligus penyelamat yang agung, bahasa universal yang mampu membisikkan pelipur pada luka seribu tahun.
Mengukir kembali jalan cerita dan menuliskan sebuah akhir yang baru bagi janji yang tak tunduk pada biduk waktu.