ciibbynes
- Reads 115,769
- Votes 1,358
- Parts 24
Ada masanya harapan kalian tidak bisa terwujud kenyataan. Juga ada masanya, keinginan kalian pupus dan tiba-tiba akan terhapus. Ketika keadaan yang 'tiba-tiba datang tanpa diundang' bahkan 'tidak pernah terpikirkan dalam otak kalian' seketika meleburkan seluruh ekspektasi dan kalian berpasrah terhadap reality? Tapi bagaimana, kalau keadaan tersebut menimbulkan rasa kebahagiaan, atau malah rasa dahsyatnya kekecewaan?
Apa tanggapan kalian?
Kalau sudah memilih pasrah akan bentuk realita, tindakan apa yang bisa memberantas fakta? Jawabannya: tidak ada. Waktu tidak bisa kita rubah bahkan ada niat untuk merevisinya.
Begitu penjabaran Zibel Margantari terhadap kehidupan yang ditampar habis-habisan. Yang namanya berpasrah, berarti harus siap menerima konsekuensi badai yang menerpa. Karena apa? Karena dipaksa menikah oleh bokap agar bisnis yang ia bangun tidak diambang bangkrut. Dan juga tidak ada bentuk pertolongan dari orang lain, kecuali memasukkan tindak-tanduk jenius teman dari Zicco Grantara Alexander.
Aliusman, bokap dari Pratama Ali. Satu permintaannya sebagai bentuk balas budi, adalah: menikahkan anak mereka jika ia harus terjun kelapangan guna untuk mengembalikan omset perusahaan sang teman. Intinya saja: tidak ada kata penolakan dari kedua belah pihak karena perintah mutlak atas apa sebab-akibat kenapa, mereka dijodohkan?
Balik lagi, terpaksa bukan berarti hanya menimbulkan kesan lara. Namanya juga dunia, terkadang enggak sesuai sama ekspektasi dan harapan kita? Seberapa jauhnya perjalanan mereka yang terlalu enjoy terhadap scenario yang di beri oleh semesta? Apa mungkin perjodohan dari orang tua mereka akan menimbulkan rasa cinta terhadap mereka berdua?
Tidak ada yang tahu. Semuanya akan terjawab oleh waktu.
"Kalaupun kita akan berhubungan intim karena nafsu semata dan nyatanya kita pasangan yang sah, bukan berarti dari tindakan tersebut aku akan jatuh cinta, Pratama."
"Buktikan omongan kamu sekarang. Bisa?"
©ciibbynes-hak cipta dilindungi undang-undan