EonniGhege
- Reads 672
- Votes 99
- Parts 45
Bagi Rania, kelima anaknya adalah seluruh dunianya. Ketika suaminya berpulang terlalu cepat, Rania tidak punya waktu untuk menangis. Ia melipat kesedihannya erat-erat, menggantinya dengan peluh dan kerja keras.
Mulai dari buruh cuci, berjualan kue di pasar bawah bisingnya subuh, hingga menahan lapar agar kelima piring di mejanya selalu terisi.
Satu per satu, Rania berhasil merajut sayap untuk anak-anaknya. Ia terbangkan mereka setinggi mungkin lewat pendidikan terbaik.
"Ibu tidak butuh kalian jadi orang hebat, Ibu hanya ingin kalian punya masa depan," bisik Kirana setiap kali melepas mereka pergi merantau.
Waktu berlalu, anak-anaknya tumbuh menjadi "orang besar" di ibu kota. Mereka sukses, mapan, dan dihormati. Namun bersamaan dengan dewasanya mereka, rumah masa kecil di kampung halaman perlahan berubah menjadi tempat yang asing.
Telepon yang berdering semakin jarang, kunjungan saat hari raya mulai digantikan oleh selembar uang transferan, hingga akhirnya... sepi benar-benar merajang rumah tua itu.
Kelima anaknya telah terbang terlalu jauh.
Mereka lupa pada tangan-tangan kasar yang dulu mengobati luka lutut mereka, lupa pada punggung yang membungkuk demi memikul biaya kuliah mereka. Di hari tuanya, Rania harus menghadapi kenyataan paling menyakitkan: ia tidak kehilangan anak-anaknya karena maut, melainkan karena kesuksesan yang ia perjuangkan sendiri.
Sebuah kisah tentang pengorbanan tanpa syarat, ego yang membutakan, dan kerinduan seorang ibu yang tak pernah sampai ke telinga anak-anaknya.