El_DoubleR
Di balik senyum yang tak pernah sepenuhnya tiba, seorang anak tengah belajar diam sejak kecil-diam yang bukan pilihan, melainkan kebiasaan yang tumbuh dari ketiadaan ruang untuk bersandar. Ia hadir, namun kerap tak terlihat; ada, namun seolah tak pernah dianggap benar-benar ada. Dalam keluarganya, ia berdiri dengan dua kaki yang lelah, menopang diri sendiri ketika dunia di sekelilingnya terasa sibuk menuntut tanpa pernah mendengar.
Hari-harinya dipenuhi retakan halus yang tak tampak oleh siapa pun. Namun retakan itu justru semakin nyaring di dalam dirinya, mengetuk pintu yang tak pernah ia berani buka. Di tengah kesunyian yang menyesakkan, ia berusaha menata ulang hidupnya-mencari cahaya kecil yang terselip di antara bayang-bayang ekspektasi dan ketidakhadiran perhatian.
Novel ini adalah perjalanan menemukan diri: tentang luka yang tak terlihat, tentang keberanian mencari cahaya di tengah hening yang menyesakkan, dan tentang menemukan bahwa suara sekecil apa pun tetap berharga... selama ia berani mengeluarkannya.
Saat ia perlahan belajar berbicara-pada dunia, pada keluarganya, dan terutama pada dirinya sendiri-ia menyadari bahwa diam tak selalu berarti kuat, dan bersuara bukan berarti menuntut. Terkadang, itu hanya cara untuk akhirnya diakui... dan disembuhkan.