Fushigina_Hito
Bagi Wu Xie, mencintai Zhang Qiling adalah seni mengulang waktu. Sejak vonis medis itu dijatuhkan, kabut putih di kepala Qiling terus datang tanpa permisi. Menghapus nama, kenangan, hingga eksistensi hubungan romantis yang telah mereka rajut bertahun-tahun. Di dalam kamar nomor 402, Wu Xie dipaksa menelan kenyataan pahit: menurunkan derajat dirinya menjadi sekadar "teman" baru demi melindungi saraf kepala sang kekasih.
Setiap kali Qiling terbangun dengan tatapan asing dan bertanya, "Kamu siapa?", di sanalah hati Wu Xie runtuh berkeping-keping. Namun, di tengah siklus amnesia progresif yang kejam ini, mereka menolak menyerah. Melalui ratusan lembar foto Polaroid yang tergantung di dinding apartemen dan sepucuk surat wasiat dari masa lalu, sebuah keajaiban magis bertahan di balik keputusasaan.
Karena bagi mereka, memori boleh saja mengkhianati logika, tetapi inti dari sebuah jiwa tidak akan pernah bisa melupakan belahan jiwanya. Otak Zhang Qiling mungkin telah kosong, namun hatinya selalu mengenali ke mana ia harus pulang.
Sebuah kisah tentang kepasrahan, perjuangan domestik yang sunyi, dan keteguhan cinta yang melompat melintasi batas ingatan.