Fushigina_Hito
Bagi Zhang Qiling, ingatan adalah kutukan-sebuah labirin yang selalu runtuh sebelum ia sempat menemukan jalan keluar. Baginya, dunia hanyalah rangkaian bayangan yang lewat, dan masa lalu adalah lumpur yang hanya memperlambat langkahnya.
Namun, di sebuah sudut sunyi kota Hangzhou, Wu Xie memberikan sesuatu yang tidak pernah ia duga: sebuah kamera instax kecil dan sebuah alasan untuk tetap tinggal.
Di antara aroma teh melati, uap hotpot yang pedas, dan salju musim dingin yang turun di Wu Shan Ju, Zhang Qiling mulai belajar menangkap dunia dalam bingkai-bingkai kecil. Ia tidak lagi memotret untuk sejarah, melainkan untuk sebuah pembuktian sederhana bahwa ia pernah ada, pernah tertawa, dan pernah memiliki tempat yang ia sebut sebagai "Rumah".
Ini bukan tentang ekspedisi makam bawah tanah yang berbahaya. Ini adalah tentang cara seorang "Dewa" belajar menjadi manusia, dan bagaimana seorang Wu Xie menjadi satu-satunya fokus yang tak pernah kabur dalam lensa kehidupannya.