Mincaaa
- Reads 1,971
- Votes 59
- Parts 3
Masa SMP Aruna bukan tentang cinta besar atau kisah dramatis yang mengguncang dunia.
Hanya tentang tawa yang terlalu keras di kelas, dihukum karena lupa PR, perjodohan konyol yang bikin salting berjamaah, gosip tak penting yang terasa sangat penting, dan berebut batu es di kantin sampai ketawa ngakak. Tentang hari-hari ketika guru sedang baik hati dan memperbolehkan membawa ponsel, lalu satu kelas sibuk mengabadikan momen seolah itu peristiwa bersejarah.
Hidupnya terlihat biasa saja.
Terlalu biasa, mungkin.
Ia tidak populer. Tidak luar biasa.
Hanya gadis kecil yang ceria, polos, dan terlalu mudah tertawa.
Aruna menjalani semuanya tanpa merasa sedang menulis cerita.
Ia hanya hidup. Hanya tertawa. Hanya merasa bebas.
Kebebasan berekspresi yang terasa seluas langit sekolah.
Kekompakan yang terasa akan berlangsung selamanya.
Hal-hal receh yang saat itu dianggap biasa-
ternyata kelak menjadi yang paling mahal.
Hingga suatu hari, dunia tiba-tiba berhenti.
Sekolah ditutup.
Papan tulis menjadi layar.
Suara bel berganti notifikasi.
Dan gerbang itu-
yang biasanya terbuka lebar setiap pagi-
kini tertutup rapat.
Sunyi.
Seolah tak pernah ada tawa yang pernah memenuhi halamannya.
Tak ada yang benar-benar mengerti bahwa pertemuan terakhir itu adalah yang terakhir.
Tak ada pelukan panjang.
Tak ada perpisahan yang sempat dipersiapkan.
Sampai semuanya selesai begitu saja.
Tanpa aba-aba.
Tanpa benar-benar sempat berkata, "nanti ketemu lagi ya."
Dan ketika waktu sudah berjalan jauh,
Aruna baru mengerti-
Masa SMP bukan tentang siapa yang jadi milik siapa.
Bukan tentang kisah cinta besar.
Melainkan tentang suasana.
Tentang tawa yang pernah sebebas itu.
Tentang dirinya di usia itu-
yang paling jujur, paling polos, dan paling bahagia.
Karena kadang, yang paling dirindukan bukanlah seseorang...
melainkan versi diri kita yang pernah hidup di masa itu.
by.Mincaa Myyren.