kknyzk
- Reads 2,787
- Votes 295
- Parts 11
Musim dingin pertama di Edevane selalu terlihat indah.
Salju turun perlahan di atas menara-menara marmer putih kerajaan, menutupi jalanan batu dengan lapisan tipis menyerupai sutra. Dari kejauhan, Istana Aurelior tampak seperti sesuatu yang tidak benar-benar dibangun oleh manusia-terlalu megah, terlalu sempurna, terlalu dingin untuk disentuh.
Di dalam aula utama, cahaya ribuan lilin memantul pada lantai kristal yang mengilap. Para bangsawan berdiri dalam pakaian terbaik mereka, berbicara dengan suara pelan sambil menyembunyikan tatapan penuh perhitungan di balik senyum sopan.
Malam itu adalah perayaan kemenangan kerajaan.
Namun perhatian semua orang tidak tertuju kepada musik orkestra ataupun Putra Mahkota yang duduk di singgasana tertinggi.
Mereka sedang memandang seseorang.
Kellan Raveryn.
Putra bangsawan dari wilayah utara yang beberapa bulan terakhir menjadi bahan pembicaraan seluruh kerajaan.
Ia berdiri di dekat jendela tinggi aula dansa dengan pakaian berwarna hitam keperakan yang jatuh rapi membalut tubuhnya. Rambut gelapnya tertata sempurna, sementara sorot matanya yang tenang membuatnya tampak sulit disentuh.
Indah.
Itulah satu-satunya kata yang selalu diberikan orang-orang kepadanya.
Seolah tidak ada hal lain yang layak dibicarakan selain wajahnya.
"Tidak mengherankan apabila Yang Mulia Putra Mahkota tertarik kepadanya."
"Kudengar bahkan keluarga kerajaan telah mempertimbangkan pertunangan resmi."
"Sudah seharusnya. Tidak ada seorang pun yang lebih pantas berdiri di sisi Putra Mahkota selain dirinya."
Bisikan-bisikan itu terdengar jelas meskipun diucapkan setengah pelan.
Kellan mendengarnya.
Ia selalu mendengarnya.
Namun seperti biasa, lelaki itu hanya tersenyum tipis dan berpura-pura tidak peduli.
Dari singgasana utama, Zephyr Alveradine memandangnya tanpa berkedip-