Grsn_pena
- MGA BUMASA 11,611
- Mga Boto 554
- Mga Parte 61
Tidak semua perpisahan terjadi dengan suara pintu dibanting.
Sebagian datang pelan-dalam lelah yang tak sempat diucapkan, dalam tatap yang tak lagi saling mencari.
Malam itu, rumah terasa terlalu besar untuk Kinan. Tangisan bayi yang belum genap dua minggu menggema seperti pengingat bahwa ia kelelahan, sendirian, dan tak terlihat. Shanira terlelap dengan boneka di dadanya, Galenna meringkuk di sisi ranjang kecil-dua anak yang masih terlalu kecil untuk mengerti kenapa ibunya sering menangis tanpa suara.
Bagaskara tidak ada.
Bukan karena ia tak pulang, melainkan karena pikirannya selalu tertinggal di luar rumah-di angka, rapat, dan ambisi yang katanya demi masa depan. Ia lupa bahwa masa depan juga punya wajah hari ini: seorang istri yang retak, dan tiga anak perempuan yang membutuhkan lebih dari sekadar pengasuh.
Kinan pergi sebelum fajar.
Dua tangan kecil ia genggam, satu bayi ia tinggalkan-bukan karena kurang cinta, melainkan karena jiwanya sedang runtuh. Tak ada surat panjang, hanya jeda yang terlalu dalam untuk dijelaskan.
Tahun-tahun berjalan.
Tangis bayi berubah menjadi tawa remaja. Luka menjelma diam. Jarak menjadi kebiasaan.
Namun tak ada yang benar-benar putus.
Karena di antara darah dan nama, ada sesuatu yang tak terlihat namun kuat-
sebuah taut.
Yang kelak, lewat tiga anak perempuan, akan menarik kembali dua hati yang pernah saling menjauh... menuju satu rumah yang sama.
Dan kisah ini, adalah tentang bagaimana mereka menemukan jalan pulang.