sflwrinn
- Reads 1,334
- Votes 475
- Parts 16
Dunia mengenal mereka sebagai kumpulan manusia paling berisik. Di mana ada mereka, di situ ada tawa yang tidak pernah habis. Mereka ahli dalam seni mengalihkan perhatian, membangun benteng kokoh dari lelucon absurd dan tingkah konyol mereka, hanya agar dunia tidak bisa melihat retakan jiwa yang semakin lebar di dalamnya.
Mereka saling merangkul dalam diam, berbagi rahasia yang tidak pernah berani diucapkan dengan suara lantang. Mereka mengira, selama mereka terus bersama dan tawa itu tetap terdengar, semuanya akan baik-baik saja. Bahwa selama mereka masih bisa bercanda, luka itu tidak akan pernah benar-benar menang.
Di dalamnya, tidak ada siapa pun yang benar-benar utuh. Semua datang dengan retak masing-masing dan dengan lelah yang tidak selalu bisa dijelaskan. Namun justru di sanalah mereka menemukan bentuknya.
Sebagai ruang di mana manusia tidak perlu sempurna untuk diterima.
Namun, ada satu hal yang luput dari perhitungan mereka.
Sesuatu yang sedang menunggu di persimpangan jalan. Sebuah rahasia besar yang tersembunyi di balik dua angka yang terus mendekat. Angka yang perlahan berubah dari sekedar usia menjadi sebuah tanda tanya besar yang menghantui.
Tujuh belas.
Bagi sebagian orang, itu adalah angka tentang kedewasaan. Namun bagi mereka, tujuh belas adalah garis batas. Sebuah titik di mana tawa paling kencang pun tidak lagi mampu menahan segalanya agar tidak hancur.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi saat mereka sampai di sana? Siapa yang akan bertahan ketika topeng itu retak sepenuhnya? Dan kenapa angka tujuh belas terasa seperti sebuah akhir daripada sebuah awal?
Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata author
Selamat membaca....