Hisagada
Sesederhana mencintai bayang yang semakin lama pudar, bukan karena kau menjauh... tapi karena kau sudah tak lagi di dunia yang sama denganku. Waktu tidak hanya mengikis hadirmu-ia mencabutmu sepenuhnya, menghapus jejak kaki yang dulu kutapaki untuk menyusulmu.
Terlalu mudah bagi orang-orang untuk berkata, "ikhlaskan." Seolah kehilanganmu bisa kulipat rapi dan kusembunyikan dalam laci hati. Tapi mereka tidak tahu, sesederhana aku mencintaimu kala itu, sesulit itulah aku melupakanmu sekarang. Karena bagaimana bisa aku melupakan seseorang yang pernah menjadi rumah dari seluruh doaku?
Bolehkah aku, untuk pertama kalinya, berhenti menggenggam sisa-sisa hadirmu yang tinggal bayang?
Bolehkah aku mencoba memeluk diriku sendiri, setelah sekian lama hanya menunggumu untuk kembali?
Bolehkah aku mencoba bahagia-tanpamu?
Tanpa merasa bersalah?
Aku tahu, kau tak pernah benar-benar pergi. Ada bagian darimu yang tertinggal di setiap lagu favoritmu, di jalan yang dulu kita lewati, di doa yang tak pernah berhenti kusebutkan setiap malam.
Tapi hari ini, aku ingin belajar melepaskan. Bukan karena aku berhenti mencintaimu, tapi karena aku ingin mencintai diriku yang tersisa. Aku ingin menyambung hidup, bukan karena aku lupa, tapi karena aku hidup juga untuk mewarisi kenangan indah tentangmu.
Jadi, jika kamu mendengarku dari tempatmu yang damai-dari surga yang kusebut dalam setiap linangan air mata-izinkan aku mencintai hidup ini kembali, walau tanpamu di sisiku.
Untuk waktu yang mungkin lama.
Atau selamanya.
Sampai kita dipertemukan lagi.