Kavla23
- Reads 1,079
- Votes 164
- Parts 11
"Di atas lautan, kita adalah dua jiwa yang telanjang di hadapan badai. Namun di daratan, kita harus mati sebagai 'kita' dan hidup sebagai 'mereka'."
Shanghai, 1930-an.
Di atas gelombang Samudra Pasifik yang membawa kapal pesiar agung SS D'Artagnan, sebuah takdir yang terlarang bertaut. Lalisa Manoban, putri tunggal dinasti bisnis Eropa-Asia, terikat dalam sangkar porselen kemewahan yang dingin dan penuh kebohongan. Sementara Jeon Jungkook-seorang agen klandestin perlawanan Joseon bertopeng pelukis jalanan bernama Tuan Hasegawa-berjalan di antara bayang-bayang kematian dan tumpahan darah.
Pertemuan mereka di atas kapal bukan sekadar romansa fana, melainkan tempat berlindung dari kejaman dunia. Namun ketika jangkar baja menghunjam dasar Pelabuhan Shanghai, utopia mereka pecah. Keduanya dipaksa kembali ke dalam perannya masing-masing: sang putri kembali ke istana pualamnya, dan sang jenderal bayangan kembali ke selokan perang yang menuntut nyawanya.
Di tengah desing peluru Kempeitai, letupan bom di Taman Hongkou, dan diplomasi darah di bawah benteng kolonialism, hanya ada satu benang merah yang menahan jiwa mereka dari kegilaan: sebuah lukisan burung Bonghwang yang menembus badai kemerahan dan janji rahasia yang menolak untuk mati.
Sebuah roman sejarah klasik-melankolis tentang cinta, perang, kekuasaan, dan kanvas yang menyimpan keabadian.