KrisanSaleh
- Reads 1,311
- Votes 20
- Parts 2
Di Istana Giok Naga, seorang wanita hanya memiliki satu nilai.
Rahimnya.
Selama sepuluh tahun pernikahan, Kaisar Liang Zhen tidak memiliki seorang pun putra. Para selir terus berdatangan, berharap melahirkan penerus tahta. Namun satu demi satu bayi yang lahir hanyalah perempuan.
Di tengah istana yang penuh intrik itu, Wei Lanyin hanyalah seorang pelayan kecil milik Permaisuri. Tak ada yang memperhatikannya. Tak ada yang menganggapnya berbahaya.
Padahal Lanyin belajar dengan cepat.
Ia melihat bagaimana para selir saling meracuni.
Bagaimana bayi bisa mati sebelum sempat membuka mata.
Bagaimana kekuasaan menentukan siapa yang hidup dan siapa yang dilupakan.
Di istana ini, wanita tanpa anak tidak memiliki masa depan.
Dan hanya satu hal yang bisa mengubah nasib seorang selir.
Seorang pangeran.
Ketika sebuah kesempatan muncul, Wei Lanyin menyadari sesuatu yang berbahaya-
Jika ia berhasil melahirkan putra Kaisar, maka tidak ada seorang pun di istana yang bisa merendahkannya lagi.
Tidak Permaisuri.
Tidak para selir.
Tidak bahkan keluarga bangsawan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Namun jalan menuju tahta tidak pernah bersih.
Di balik dinding istana tersembunyi rahasia, pengkhianatan, dan permainan kekuasaan yang bisa membunuh siapa saja.
Dan Wei Lanyin bersedia melakukan apa pun.
Karena di istana ini...
seorang wanita bisa kehilangan segalanya.
Atau-
menguasai tahta melalui rahimnya.