ALVASKABIMASTRA
Tidak ada yang langsung menyadari bahwa semuanya bermula dari sebuah kesalahan kecil.
SMA Harapan berdiri seperti sekolah lainnya-gedung tua berwarna krem, lorong panjang yang dipenuhi suara langkah kaki siswa, dan halaman sekolah yang selalu ramai oleh tawa. Setiap hari berjalan dengan pola yang sama, seolah waktu di tempat itu tidak pernah benar-benar berubah.
Namun bertahun-tahun lalu, di balik dinding-dinding yang kini terlihat biasa saja, pernah terjadi sesuatu yang seharusnya tidak pernah dibiarkan berlalu begitu saja.
Sesuatu yang disembunyikan.
Malam itu, hujan turun deras membasahi halaman sekolah. Lampu-lampu kelas sudah dimatikan, meninggalkan gedung dalam kegelapan yang nyaris total. Hanya satu ruangan di lantai tiga yang masih menyala-cahaya redupnya terlihat samar dari kejauhan.
Di dalam ruangan itu, seseorang berdiri mematung.
Tangannya gemetar saat menatap apa yang ada di hadapannya. Nafasnya tersengal, bukan karena lelah, melainkan karena kesadaran bahwa apa pun yang terjadi setelah malam ini tidak akan bisa ditarik kembali.
Ada suara langkah kaki di lorong.
Panik menyergap. Pintu ditutup tergesa. Lampu dipadamkan.
Dan sejak saat itu, sekolah memilih diam.
Waktu berlalu. Nama-nama terlupakan. Arsip disegel. Cerita berubah menjadi bisikan, lalu menghilang sama sekali. Generasi siswa berganti tanpa pernah tahu bahwa mereka berjalan di atas rahasia yang belum terkubur dengan benar.
Sampai akhirnya, seseorang memutuskan bahwa keheningan bukanlah jawaban.
Pesan pertama dikirim bukan untuk mengancam.
Melainkan untuk mengingatkan.
Bahwa setiap rahasia, betapapun lama dikubur, selalu menemukan jalannya sendiri untuk kembali ke permukaan.
Dan ketika permainan itu dimulai, tidak ada lagi yang benar-benar aman.
Terutama mereka yang memilih diam.