jubelanita
- Membaca 1,817
- Vote 291
- Bab 23
London, 1993.
Arthur William Kingsveil adalah wujud nyata dari kuasa absolut. Di usia 26 tahun, sang Marquess mengendalikan separuh ekonomi dunia dengan tangan besi. Ia dingin, tak tersentuh, dan memandang rendah hasrat manusiawi sebagai cacat logika. Baginya, wanita adalah inefisiensi dan emosi adalah penyakit. Arthur tidak mencari pendamping; ia menuntut kepatuhan total dari dunia di bawah kakinya.
Namun, ia tidak memperhitungkan Lady Eleanor Somerset.
Di mata publik, putri Duke itu adalah "The Rose of England" yang sempurna dan rapuh. Namun, di balik topeng porselennya, Eleanor adalah manipulator ulung yang melihat celah pada baju zirah Arthur. Ia tahu monster seperti Arthur tidak bisa dilawan dengan pemberontakan kasar, melainkan dengan leher yang terbuka.
Saat Eleanor sengaja menjatuhkan sapu tangan sutranya di hadapan sang Iblis, itu bukanlah tanda kecerobohan, melainkan sebuah undangan.
Arthur terpancing. Ia terobsesi untuk "memiliki" Eleanor, mematahkan sayapnya, dan menuntut kepatuhan penuh. Eleanor memberikannya dengan senang hati-membiarkan Arthur merasa menang dan berkuasa di ranjang maupun di hadapan dunia, sembari perlahan melilitkan rantai di leher pria itu melalui kepatuhan yang memabukkan.
Arthur mengira ia sedang menjinakkan seekor domba. Ia tidak sadar bahwa ia sedang memberi makan obsesi yang kelak akan meruntuhkan kewarasannya sendiri. Ini bukan kisah cinta, melainkan pertarungan dua predator di mana yang terlihat paling patuh adalah pemegang kendali sesungguhnya.