madhousel's Reading List
37 stories
Getting a Messy Heart [JossGawin] by LoVeLG23
LoVeLG23
  • WpView
    Reads 5,608
  • WpVote
    Votes 518
  • WpPart
    Parts 27
Ini mungkin tidak seperti yang dibayangkan orang lain. Membenci seseorang yang sudah bertahun-tahun lamanya, singgah dan menjadi bagian dari hidup adalah satu hal yang sangat sulit untuk dibayangkan. Mengatakan bahwa, cinta itu kadang kala menyebalkan dan menyenangkan disaat yang bersamaan. Namun, bagiku, mencintai seorang Joss adalah tindakan illegal. Tindakan yang bagi mata hukum, seperti menggorok leher manusia didepan jutaan umat. Tapi, ada satu hal yang aku tau. Dia mungkin masih benar-benar mencintaiku. Entah itu karena aku sangat pantas dicinta, atau karena terbiasa. "Buat gue, nggak selamanya orang itu bengis, nggak selamanya orang itu jahat." ucapku, matanya menyipit dan berkedip ringan. "Kalau-kalau orang jahatnya kayak Lo gini, gue masih sanggup kok buat menangin hatinya."
Accept My Lover or I'll Lose It [JossGawin] by LoVeLG23
LoVeLG23
  • WpView
    Reads 9,208
  • WpVote
    Votes 687
  • WpPart
    Parts 15
"Terimalah cintaku atau aku akan marah," gumam Joss, mengingat judul lagu lama yang entah kenapa melintas di kepalanya saat melihat wajah memerah Gawin tadi. Ia melangkah keluar bar, meninggalkan kegelapan di belakangnya, siap menyambut kekacauan yang akan dibawa oleh Gawin ke dalam hidupnya yang sudah tertata rapi namun hampa.
The Corporate Deceit [JossGawin] by LoVeLG23
LoVeLG23
  • WpView
    Reads 100,887
  • WpVote
    Votes 7,562
  • WpPart
    Parts 37
[COMPLETED] "Cinta? Itu hanya dongeng untuk orang miskin agar mereka tetap bahagia dalam penderitaan. Aku tidak butuh cinta. Aku butuh kepatuhan."
[ENGLISH VERSION] Alienation Amidst Luxury [JossGawin] by LoVeLG23
LoVeLG23
  • WpView
    Reads 19,932
  • WpVote
    Votes 802
  • WpPart
    Parts 35
[COMPLETED] The reunion was a flurry of shared laughter and quiet observations. They sat in the kitchen, the sunlight streaming through the windows, as Poon recounted his life in the city. He talked about his professors, his research into the legal history of human rights in Southeast Asia, and the small garden he had successfully established on the rooftop of his apartment building using Off's orchid seeds. He didn't talk about the Sangngern name, and he didn't mention the prison on the outskirts of the city. In this house, those things were ghosts that had no power to speak. As the afternoon faded into a long, golden twilight, Gawin and Poon walked through the garden. Off had outdone himself; the orchids were in full bloom, a riot of purple, white, and deep, velvet crimson. The yellow lilies were gone, replaced by a row of sturdy, blue-flowering hydrangeas that seemed to thrive in the mountain shade. "I visited the library last week," Poon said suddenly, his voice taking on a more serious tone. "The National Archives. I was looking through the original filings of the Sangngern bankruptcy. I found the documents you mentioned, Ayah. The ones about the 'Transaction'." Gawin felt a momentary tightening in his chest, the old instinct to protect, to shield, to hide. But he forced himself to stay still. "And?"
Golden Cage [JossGawin] by LoVeLG23
LoVeLG23
  • WpView
    Reads 49,346
  • WpVote
    Votes 3,009
  • WpPart
    Parts 31
[COMPLETED] "Bilang kalau kamu bahagia, Win," bisik Joss lagi, mengulang pertanyaannya di balkon tadi. Tapi kali ini, nadanya lebih mutlak. Setengah memerintah, setengah mengancam. Gawin menatap mata pria di hadapannya. Ia melihat kegelapan di sana. Ia melihat masa depan yang suram di mana ia akan terus hamil, melahirkan, dan terkurung selamanya. Ia menelan rasa muak yang menggumpal di tenggorokan, rasa pahit dari realita yang tak bisa ia tolak. Lalu, dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia memaksakan seulas senyum tipis yang terlatih sempurna selama bertahun-tahun menjadi model di bawah sorot lampu kamera. "Aku bahagia, Joss."
The Cost of a Heartbeat [JossGawin] by LoVeLG23
LoVeLG23
  • WpView
    Reads 20,799
  • WpVote
    Votes 1,382
  • WpPart
    Parts 25
[COMPLETED] "Dua tahun lalu profit perusahaan sedang surplus besar-besaran, Gawin. Itu namanya CSR, Corporate Social Responsibility, atau bahasa mudahnya: sedekah biar pajakku turun," ujar Joss santai. "Jadi nyawa mereka cuma buat pengurang pajak lo?" Gawin menatap Joss dengan tatapan tidak percaya, seolah ia sedang melihat monster. "Bisnis adalah bisnis. Tahun ini kita akan ekspansi gedung VIP baru, aku butuh likuiditas dana yang besar," jelas Joss tanpa rasa bersalah. "Dan pos pengeluaran yang paling tidak berguna dan hanya membakar uang adalah departemenmu itu," lanjut Joss dengan telunjuk mengarah pada Gawin. "Tidak berguna? Gue baru aja pulang dari desa, gue berhasil bikin tiga pasien pasung bisa jalan lagi!" seru Gawin membela diri. "Gue berhasil bikin anak-anak disabilitas mental di sana bisa makan sendiri tanpa disuapi! Itu kemajuan, Joss!" tambah Gawin dengan mata berapi-api. Joss tertawa kecil, tawa yang tidak sampai ke mata, tawa yang terdengar sangat menghina di telinga Gawin. "Selamat, kau berhasil mengajari orang gila makan sendiri. Berapa keuntungan yang masuk ke rekening rumah sakit dari prestasimu itu?" tanya Joss sinis. "Nol besar," jawab Joss sendiri sebelum Gawin sempat membuka mulut. "Lo... lo bener-bener nggak punya hati ya?" bisik Gawin dengan suara parau. "Gue punya otak, Gawin. Sesuatu yang sepertinya tidak kau miliki karena terlalu sibuk main jadi malaikat di lumpur," hina Joss telak.
Mr. Joss's Prisoner [JossGawin] by LoVeLG23
LoVeLG23
  • WpView
    Reads 23,215
  • WpVote
    Votes 1,723
  • WpPart
    Parts 15
[COMPLETED ON KARYA KARSA] "Aku akan ikut," ucap Gawin dingin. "Tapi ingat ini, Joss Way-ar. Kau mungkin bisa memaksaku menikahimu dan mengurungku, tapi kau tidak akan pernah mendapatkan kepatuhanku. Aku akan membuat hidupmu seperti neraka." Joss tersenyum, kali ini senyum yang benar-benar tampak terhibur. Matanya berkilat jenaka namun berbahaya, seolah baru saja menemukan mainan baru yang sangat menarik. "Aku menantikannya, Sayang," bisik Joss saat Gawin berjalan melewatinya. "Neraka bersamamu terdengar jauh lebih menyenangkan daripada surga sendirian."
UNEXPECTED: Guinzly's Story [JossGawin] by LoVeLG23
LoVeLG23
  • WpView
    Reads 42,260
  • WpVote
    Votes 2,839
  • WpPart
    Parts 15
[COMPLETED ON KARYA KARSA] Lima tahun. Sudah lima tahun sejak malam itu. Sejak pertengkaran hebat di apartemen sempit mereka, sejak Joss memilih pergi demi "masa depan" yang dijanjikan ibunya, dan meninggalkan Gawin yang memohonnya untuk tinggal. "Satu... Iced Americano," suara Joss keluar serak, nyaris tidak dikenali oleh dirinya sendiri. Tenggorokannya terasa kering, seperti baru saja menelan pasir. Gawin berkedip, seolah tersadar dari trans. Dia buru-buru membuang muka, menghindari tatapan Joss dengan gerakan yang kaku dan panik. "S-satu Iced Americano," ulangnya, suaranya bergetar. Dia tidak berani menatap Joss lagi. Tangannya gemetar saat memasang kembali portafilter ke mesin kopi. "Gawin," panggil Joss. Suaranya rendah, menuntut.
A Different Kind of Legacy [JossGawin] by LoVeLG23
LoVeLG23
  • WpView
    Reads 147,425
  • WpVote
    Votes 9,050
  • WpPart
    Parts 59
[COMPLETED] "Mikir apa?" "Dulu," kata Joss, suaranya merenung. "Ayah gue selalu bilang kalau warisan itu tentang apa yang kita tinggalin. Gedung. Uang. Nama baik." Joss membuka matanya, menatap Guinzly yang tidur dengan mulut sedikit terbuka, persis seperti Gawin. "Gue abisin separuh hidup gue buat ngebangun warisan itu," lanjut Joss. "Gue jadi dingin. Gue jadi mesin. Gue pikir itu cara buat abadi." Gawin mengelus rambut Joss, melepaskan ikatan karet gelang warna-warni yang dipasang Guinzly tadi. "Dan sekarang?" Joss meraih tangan Gawin, mencium telapak tangannya. "Sekarang gue tahu dia salah." Joss berdiri. Dia merangkul pinggang Gawin, menariknya mendekat di tengah kamar anak mereka yang remang-remang.
AROMA [JossGawin] by LoVeLG23
LoVeLG23
  • WpView
    Reads 36,970
  • WpVote
    Votes 1,737
  • WpPart
    Parts 25
[COMPLETED] "GAWIN! JANGAN PERGI! WIN, TUNGGU!" Gawin tidak peduli lagi. Dia menuruni tangga, dua anak tangga sekaligus, hampir tersandung. Dia mengabaikan teriakan Ayahnya yang kini bercampur dengan kepanikan. Dia menyambar sepatunya di rak, tidak peduli talinya. Dia merobek pintu depan hingga terbuka, menghambur ke dalam kegelapan malam Bangkok yang kini mulai diguyur hujan. Dia hanya tahu dia harus pergi. Pria yang dia sembah. Pria yang dia serahkan segalanya; harga dirinya, tubuhnya, jiwanya. Baru saja tidur dengan ayahnya sendiri.