MmyJimin
- Reads 865
- Votes 190
- Parts 8
Willa Maximilian, 32 tahun, adalah pengacara publik yang menghabiskan seluruh hidupnya berjuang untuk orang lain hingga tubuhnya sendiri menyerah. Didiagnosis Chronic Fatigue Syndrome yang bertahun-tahun ia abaikan, ia menutup mata untuk terakhir kalinya di atas tumpukan berkas kasus yang belum selesai.
Lalu ia membuka mata dan bau cat tembok baru menyambutnya.
Willa terbangun sebagai dirinya sendiri, empat belas tahun lalu, di hari pertama MPLS Fakultas Hukum Universitas Kwangya. Tubuh delapan belas tahun dengan ingatan tiga puluh dua tahun. Seragam putih abu yang sudah lama ia lupakan. Dan di barisan panitia MPLS yang berdiri galak di depan aula ada Katerina Yaroslavl.
Willa mengenali wajah itu.
Katerina adalah hakim yang paling ia hormati sekaligus paling ia benci di kehidupan lamanya perempuan keras kepala yang menolak menandatangani putusan bebas klien Willa dalam kasus yang Willa yakini sepenuhnya benar. Mereka berpisah sebagai musuh di ruang sidang. Tapi di sini, Katerina hanyalah mahasiswi semester tiga yang bertindak terlalu serius sebagai koordinator MPLS.
Willa punya dua pilihan: menjalani kuliah ini seperti biasa, atau menggunakan semua yang ia tahu untuk mengubah segalanya, termasuk kasus-kasus besar yang ia tahu akan terjadi, keputusan-keputusan keliru yang akan melukai banyak orang, dan jalan hidup seorang Katerina Yaroslavl yang, ternyata, jauh lebih rapuh dari yang pernah ia bayangkan.
Masalahnya semakin dekat Willa dengan Katerina, semakin ia sadar bahwa di kehidupan lama, ia tidak pernah benar-benar melihat perempuan itu. Hanya putusannya. Hanya jubah hitamnya. Bukan tangannya yang gemetar saat menandatangani sesuatu yang ia sendiri tidak percayai. Bukan matanya yang menyimpan rahasia yang tidak pernah sampai ke ruang sidang mana pun.
Keadilan bisa dipelajari dari buku. Tapi bagaimana cara memperjuangkan seseorang itu harus dipelajari dari awal.