AfikaZufiana
- Reads 282
- Votes 30
- Parts 12
Bagaimanapun aku berusaha menghindar,
Rasa yang ada telah begitu tegar,
Bagai memeluk bayang-bayang samar,
Bagai mawar pagi yang enggan mekar.
Teman, aku begitu bodoh,
Gila dan ceroboh,
Mungkinkah aku akan mencintaimu,
Sedang kau adalah teman Sejatiku?
Dulu, aku menanyakan itu pada diri sendiri,
Namun kini, rasa yang ada tak bisa kuingkari,
Nyatanya aku telah mencintaimu sepenuh hati,
Entahlah, apa yang selepasnya akan terjadi.
Sejujurnya, aku amat takut,
Aku tak ingin pertemanan kita terenggut,
Namun, cintaku padamu telah begitu akut,
Perasaan yang terpatri terus menuntut.
Teman, yakinkan aku,
Beri aku tawa tentang nasib kaku,
Aku mencintaimu sepenuh hati,
Namun kau juga Teman sejati.