Arreviolie
JURNAL KESELAMATAN PENGHUNI PRIA (CATATAN TIGOR)
Perempuan.
Aku tidak pernah benar-benar mengerti makhluk itu.
Seumur hidupku, aku mengangkat besi ratusan kilo setiap hari hanya untuk satu alasan sederhana, membangun otot tebal sebagai benteng pertahanan agar mentalku tidak runtuh saat melihat mereka.
Namun di lantai dua kosan ini, pertahananku terus diuji sampai batas gila.
Ada Sisil yang berjalan santai di lorong hanya memakai celana super pendek dan baju tipis.
Ada Ling-Ling yang keluar kamar mandi hanya berbalut handuk basah sambil berteriak marah.
Dan ada Mami Tari, pemilik kos yang bisa membongkar pintu kamar memakai paku beton kapan saja dia mau.
Bagi pria biasa, tempat ini adalah jebakan visual yang siap menghancurkan akal sehat setiap detik.
Hari ini, seorang anak baru datang membawa koper besarnya. Aku sudah mencoba memperingatkannya lewat coretan spidol merah agar dia menutup mata dan waspada.
Namun, anak baru itu malah terjebak di tengah kekacauan telur pecah dan aroma sabun mandi. Puncak kegilaan terjadi tengah malam ini di dalam kamarku. Juna, anak filsafat yang aneh itu, membawa jepit rambut hitam milik Sisil yang tertinggal di mesin cuci dan membeberkan sebuah rahasia terlarang: tentang bagaimana cara menukar kesadaran dan masuk ke dalam tubuh perempuan tersebut.
Demi menyembunyikan bukti dari Mami Tari, anak baru itu terpaksa membawa jepit rambut Sisil dan tidur di kamarnya. Namun saat malam berganti subuh, sebuah mimpi buruk yang mustahil benar-benar terjadi. Anak baru itu membuka mata di atas kasur empuk, bukan lagi sebagai seorang pria, melainkan terbangun di dalam wujud Sisil dengan baju tidur tipis dan beban berat di dadanya.
Mampukah dia bertahan hidup di dalam raga yang selama ini paling kami takuti, atau justru akal sehatnya akan hilang selamanya di dalam kamar itu?