butterflyybyyy
- Reads 905
- Votes 25
- Parts 23
"Kemarin Kaila pernah bilang kan? Jika profesor Dikta itu sangat menakjubkan. Sepertinya seluruh untaian kata berbentuk; puisi, syair, sajak maupun cerita yang teruraikan dari Kaila masih belum mampu untuk mengabadikan bagaimana sosok Profesor Dikta di hidup saya.
Diksi-diksi saya seolah memberontak, sebab frustasi tak mampu menampung rasa saya yang hanya bisa diungkapkan lewat kata dan pada akhirnya setumpuk kagum yang kaila simpan hanya mampu bermuara pada doa panjang yang masih terus berusaha dilangitkan.
'Semoga Ia lama, semoga Ia bertahan jauh, dia panjang umur, dia bahagia, dia selalu sehat dan dia lebih kuat. Semoga juga senyum tak kunjung luntur dari paras rupawan nya dan Tuhan memperkenankan aku menjadi salah satu alasan semesta ku bahagia.'
Namun sepertinya suatu hari, akan tiba detik dimana rasa kagum Kaila tidak lagi Profesor Dikta temukan di mana-mana. Bentuk cinta itu tidak akan lagi berserakan pada jalanan yang pernah kita lewati bersama, atau sudah tidak lagi tersusun rapi pada tiap paragraf cerita yang Kaila tulis setiap mulai merindukan kita yang dahulu. Sebab mungkin segala bentuknya sudah Kaila putuskan untuk dikurung saja, pada peti mati yang ditutup dengan acara simbolis jika episode mencintai sosok Profesor Dikta harus segera dipurnakan dan perlu ditamatkan.
Mungkin suatu saat rasa lelah akan mulai merundung, sebab pada nyatanya Profesor Dikta tidak pernah punya tempat pemberhentian untuk mempersilahkan Kaila menetap. Ternyata, mengagumi seseorang itu menguras tenaga juga sekotak porsi cinta yang Kaila habiskan untuk Profesor. Maaf, Kaila takut jika kedepannya tak berhasil lepas dan semakin jatuh. Oleh karena itu, Kaila memutuskan untuk mulai mengemasi seluruh perasaannya.
Episode mengaguminya akan segera Ia selesaikan. Semoga. Tolong doakan Ia mampu ya."