PenerbitHarfeey
- Reads 2,046
- Votes 43
- Parts 1
"Mas Endru, Silvi benar-benar minta maaf, Mas. Silvi khilaf, Silvi nggak bisa menjaga kepercayaan Mas Endru." Silvi duduk bersimpuh di hadapan Endru, tangisnya tak terbendung lagi.
Sedangkan Endru tak bisa berkata-kata melihat kondisi Silvi dengan perut yang mulai terlihat membuncit. Ingin rasanya ia berteriak, meluapkan semua emosinya, namun mulutnya terkunci. Kedua kakinya terasa lemas bagaikan tak bertulang. Ia berusaha menahan agar butiran kristal bening tak jatuh dari sudut matanya. Untungnya saat itu Topan, sahabatnya, menemaninya.
"Nak Endru, maafkan Bapak dan Ibu yang tidak bisa menjaga Silvi dengan baik. Kami benar-benar malu dan kecewa atas perbuatan anak kami ini. Sekali lagi kami mohon maaf, Nak Endru." Pak Sugeng memohon maaf kepada Endru, sedangkan Bu Sugeng hanya bisa menangis di samping suaminya.
"Siapa laki-laki itu?" hanya itu yang terlontar dari mulut Endru.
Suasana hening sesaat, tak ada jawaban, yang terdengar hanya suara isak tangis Silvi dan Ibunya.