ririmsky
- MGA BUMASA 2,770
- Mga Boto 261
- Mga Parte 58
Bagi Fifa, kepindahannya ke Bangkok bukan sekadar tinggal bersama nenek, melainkan awal dari sebuah pengejaran yang melelahkan namun penuh warna. Sejak pertama kali melihat Copper dari jendela kamarnya yang saling berhadapan, Fifa tahu ia telah jatuh cinta.
Copper adalah segalanya yang tidak dimiliki Fifa: pintar, tenang, dan sangat fokus pada masa depan. Sebaliknya, Fifa hanyalah "si pembuat masalah" yang lebih suka bermain daripada belajar. Selama tiga tahun masa SMA, Fifa tak henti-hentinya "berisik" dalam hidup Copper-mengganggu, menyatakan cinta secara terang-terangan, hingga mengabaikan dinginnya penolakan Copper.
Titik balik itu datang saat Fifa mengetahui kenyataan pahit: Copper ternyata menjalin kasih dengan seorang junior pria di kampusnya. Penolakan kasar Copper hari itu akhirnya mematikan cahaya di mata Fifa.
Fifa berubah. Ia menjadi pendiam, fokus belajar, dan berhenti mengejar. Perubahan itu bukan karena ia menyerah pada keadaan, melainkan karena ia bersiap untuk pergi sejauh mungkin-menyusul orang tuanya ke Korea Selatan demi mengubur semua kenangan tentang Copper.
Namun, saat pintu kamar di seberang jendela itu benar-benar tertutup dan Fifa menghilang, Copper justru didera keheningan yang menyakitkan. Baru saat itulah ia menyadari bahwa "gangguan" Fifa telah menjadi detak jantung dalam kesehariannya.
Empat tahun berlalu. Jarak antara Bangkok dan Seoul seolah tak mampu menghapus gema perasaan yang tertinggal. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali di Bangkok, Fifa kembali membawa perasaan yang sama besarnya. Namun kali ini, dinamika itu berbalik.
Copper tak akan lagi membiarkan Fifa pergi. Jika dulu Fifa yang mengejarnya, kini Copper-lah yang akan jatuh lebih dalam, lebih posesif, dan lebih terobsesi untuk memastikan gema itu tidak akan pernah hilang lagi dari hidupnya.