Daftar bacaan FourThirty
2 stories
NGUNDUH JIWO  by FourThirty
FourThirty
  • WpView
    Reads 101
  • WpVote
    Votes 26
  • WpPart
    Parts 13
Di tanah yang dianggap paling suci oleh sebagian orang, tersimpan masa lalu yang terlalu keji untuk diakui manusia. Kekayaan yang kini diagungkan tak lahir dari kerja keras semata, melainkan dari janji-janji gelap yang pernah ditanam dalam diam. Ada waktu untuk menanam, dan ada waktu untuk memanen. Dulu, tumbal dipersembahkan demi kemakmuran. Kini, jiwa-jiwa harus dibayar sebagai gantinya. Mereka yang tersesat, mereka yang ingkar, dan mereka yang merasa bisa lolos dari perjanjian, satu per satu akan ditagih. Karena Tuan yang mereka sembah telah datang untuk NGUNDUH JIWO. PROLOG Kampung itu dikenal sebagai tanah suci. Tanahnya tenang, airnya jernih, dan doa selalu terdengar lebih dulu sebelum ayam berkokok. Orang-orang dari luar datang mencari berkah, tanpa pernah bertanya apa yang telah ditanam di bawah kaki mereka sendiri. Tak banyak yang tahu, atau memilih untuk lupa bahwa kesucian itu lahir dari sebuah perjanjian. Bukan perjanjian dengan Tuhan, melainkan dengan sesuatu yang bersemayam di bawah tanah. Dulu, ketika kemiskinan dianggap aib dan kekayaan disamakan dengan keselamatan, banyak manusia tersesat. Pesugihan dilakukan dalam sunyi. Janji diucapkan tanpa memikirkan akibat. Jiwa ditukar demi kehidupan yang tampak utuh di permukaan. Sebagian berhasil. Sebagian menghilang. Sebagian lagi tetap hidup, namun tak pernah benar-benar kembali. Kini kampung itu berdiri rapi, bersih, dan seolah tak pernah ternoda. Namun pada malam-malam tertentu, tanah bergetar pelan, seperti sedang menghitung ulang hutang yang belum lunas. Karena tidak semua dosa bisa dikubur. Dan di kampung yang disebut suci itu, jiwa-jiwa masih menunggu untuk dipanen.
Akar Merandu  by FourThirty
FourThirty
  • WpView
    Reads 69
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Parts 10
Di tanah sunyi Banten bagian selatan, tersembunyi sebuah kampung tua bernama Waringgi, tempat di mana waktu seakan berhenti. Di tengah kampung itu berdiri pohon purba berakar hitam dan menjalar ke segala arah, mereka menyebutnya Akar Merandu. Tak ada yang berani menebang, apalagi menyentuhnya. Dulu, akar itu ditanam oleh seorang ulama sakti bernama Syekh Makarim, untuk menyegel sesuatu yang tak boleh dibangunkan. Namun zaman berubah. Manusia mulai lupa akan perjanjian lama yang mengikat tanah itu. Dan kutukan yang tidur berabad-abad kini mulai bernafas kembali.