FourThirty
- Reads 101
- Votes 26
- Parts 13
Di tanah yang dianggap paling suci oleh sebagian orang, tersimpan masa lalu yang terlalu keji untuk diakui manusia.
Kekayaan yang kini diagungkan tak lahir dari kerja keras semata, melainkan dari janji-janji gelap yang pernah ditanam dalam diam. Ada waktu untuk menanam, dan ada waktu untuk memanen.
Dulu, tumbal dipersembahkan demi kemakmuran.
Kini, jiwa-jiwa harus dibayar sebagai gantinya.
Mereka yang tersesat, mereka yang ingkar, dan mereka yang merasa bisa lolos dari perjanjian, satu per satu akan ditagih.
Karena Tuan yang mereka sembah telah datang untuk NGUNDUH JIWO.
PROLOG
Kampung itu dikenal sebagai tanah suci.
Tanahnya tenang, airnya jernih, dan doa selalu terdengar lebih dulu sebelum ayam berkokok. Orang-orang dari luar datang mencari berkah, tanpa pernah bertanya apa yang telah ditanam di bawah kaki mereka sendiri.
Tak banyak yang tahu, atau memilih untuk lupa bahwa kesucian itu lahir dari sebuah perjanjian.
Bukan perjanjian dengan Tuhan,
melainkan dengan sesuatu yang bersemayam di bawah tanah.
Dulu, ketika kemiskinan dianggap aib dan kekayaan disamakan dengan keselamatan, banyak manusia tersesat. Pesugihan dilakukan dalam sunyi. Janji diucapkan tanpa memikirkan akibat. Jiwa ditukar demi kehidupan yang tampak utuh di permukaan.
Sebagian berhasil.
Sebagian menghilang.
Sebagian lagi tetap hidup, namun tak pernah benar-benar kembali.
Kini kampung itu berdiri rapi, bersih, dan seolah tak pernah ternoda. Namun pada malam-malam tertentu, tanah bergetar pelan, seperti sedang menghitung ulang hutang yang belum lunas.
Karena tidak semua dosa bisa dikubur.
Dan di kampung yang disebut suci itu,
jiwa-jiwa masih menunggu untuk dipanen.