blackcurrantbery
- MGA BUMASA 11,004
- Mga Boto 1,644
- Mga Parte 15
Alan sedang menulis di papan tulis, tangan gemetar saat mencoba menjelaskan materi sejarah. Tiba-tiba sesuatu menghantam kepalanya, dan penghapus jatuh ke lantai, diikuti tawa kecil dari beberapa siswa. Alan menoleh dan melihat Damar duduk santai di dekat jendela, kaki dinaikkan ke kursi, matanya menatapnya lurus. Tanpa menutupi rasa usilnya.
"Damar, jangan begitu " suara Alan terdengar cemas.
"Kenapa? Cuma penghapus " Damar menjawab datar, mengangkat bahu tanpa menyesal.
Sebelum Alan sempat menegur lebih jauh, suara kursi terseret keras dari belakang kelas memotong semuanya. Semua mata menoleh. Raka berdiri dengan langkah pelan tapi berat, berjalan langsung ke Damar. Kelas hening saat Raka berhenti di depan mejanya.
"Ambil," suara Raka rendah, menunjuk penghapus di lantai dekat kaki Alan.
Damar menatapnya sebentar, lalu menatap Raka lagi. "Kalau nggak?"
Tangan Raka mencengkeram kerah seragam Damar dengan cepat. Kursi Damar terdorong ke belakang, membuat Alan tersentak.
"Raka, jangan"
Raka menoleh sekilas ke arah Alan. "Diam."
Alan langsung menutup mulut. Raka kembali menatap Damar dengan tajam. "Jangan sentuh apa pun yang ada di depan kelas."
Damar menatap beberapa detik, lalu terkekeh pelan. Ia menunduk, mengambil penghapus dari lantai.
Di belakang, Arvin hanya duduk bersandar di kursinya. Matanya mengikuti setiap gerakan, tenang, observatif, tanpa ikut bicara.
Di bangku depan, Fariz memutar pulpen di jarinya, menatap Alan tanpa berkedip, berdiri perlahan dan berkata, "Pak Guru."
Alan menoleh kaku.
"Takut ya tadi?"
Alan buru-buru menggeleng. "Ti-tidak..."
Fariz tersenyum kecil, senyum yang aneh, seperti menyimpan maksud tersembunyi. "Tangan Bapak gemetar."
Dari belakang kelas, suara Raka terdengar dingin " Duduk "
Fariz melirik Raka sebentar. "Iya," gumamnya pelan sebelum kembali ke bangkunya. Tapi sebelum duduk, ia menatap Alan sekali lagi. Matanya menyipit.
"Kalau ada yang ganggu lagi, gue mau lihat wajah panik pak guru lagi, lucu soalnya "