Satya Dharmasraya Universe!
2 stories
Limerence [taennie] by averyallen_
averyallen_
  • WpView
    Reads 575
  • WpVote
    Votes 70
  • WpPart
    Parts 11
"Some loves don't collapse into chaos. They assemble themselves carefully - thought by thought, habit by habit - until the structure feels intentional, even when it was built out of longing." *** Di balik kampus yang dipenuhi diskusi akademik dan presentasi rasional, Jeanne Kalindrasari Halimardja dan Vincent Adhiraksana Mahatama terlihat seperti pasangan yang stabil-dewasa, intelektual, terkendali. Mereka tidak dramatis. Mereka tidak berisik. Mereka tampak matang. Jeanne, percaya pada perbaikan sebelum kehancuran. Ia terbiasa merawat sesuatu hingga kembali utuh. Vincent, terbiasa membaca ancaman sebelum ia terjadi. Dalam cintanya, ia melakukan hal yang sama-mengantisipasi kehilangan, menjaga jarak orang lain, memastikan Jeanne tetap dalam orbitnya. Awalnya itu terasa seperti perhatian. Balasan pesan yang cepat. Pertanyaan kecil yang terdengar wajar. Tangan yang selalu menggenggam lebih dulu. Lalu perhatian berubah menjadi kebutuhan untuk tahu. Kebutuhan untuk tahu berubah menjadi kebutuhan untuk memastikan. Dan memastikan berubah menjadi kendali yang tak pernah diakui sebagai kendali. Vincent tidak pernah melarang. Ia hanya bertanya terlalu detail. Ia tidak pernah memerintah. Ia hanya menyarankan dengan logika yang sulit ditolak. Ia tidak pernah mengurung. Ia hanya membuat Jeanne merasa lebih aman jika tetap dekat. Di sanalah limerence bekerja-bukan sebagai ledakan, tetapi sebagai struktur yang dibangun pelan. Obsesi yang tampak rasional. Dedikasi yang terasa wajar. Sampai suatu hari Jeanne menyadari bahwa stabilitas yang mereka bangun memiliki harga-dan harga itu adalah ruang bernapasnya sendiri.
Diplomasi Perasaan di Ruang Bimbingan [taennie] by averyallen_
averyallen_
  • WpView
    Reads 2,954
  • WpVote
    Votes 539
  • WpPart
    Parts 55
Jade Naraya Pramudita, mahasiswi tingkat akhir yang hanya ingin lulus tepat waktu tanpa drama, justru dihadapkan pada tantangan yang jauh lebih rumit saat berada di bawah bimbingan Theodore Rahardja, seorang akademisi yang tenang, presisi, dan nyaris tanpa kompromi dalam standar kesempurnaannya. Bersama Theodore, setiap sesi bimbingan tidak pernah sekadar menjadi diskusi ilmiah biasa, melainkan berubah menjadi proses evaluasi menyeluruh yang menguji bukan hanya isi skripsi Jade, tetapi juga cara berpikir, ketelitian, dan ketahanannya menghadapi tekanan. Revisi demi revisi, dengan coretan merah yang tak pernah sedikit, perlahan membentuk dinamika hubungan yang terasa kaku namun intens. Pada awalnya, hubungan mereka berjalan profesional dan terjaga, dipenuhi istilah metodologi serta batas yang jelas. Namun tanpa disadari, sesuatu mulai bergeser. Waktu bimbingan menjadi lebih lama dari seharusnya, percakapan berkembang melampaui urusan akademik, dan tatapan yang awalnya netral mulai menyimpan makna yang sulit diabaikan. Bahkan keheningan di antara mereka pun terasa berbeda-tidak lagi sekadar jeda, melainkan ruang yang sarat arti. Jade berusaha menyangkal semuanya. Ia memaksakan diri untuk tetap rasional dan menjaga profesionalitas, meyakini bahwa perasaan yang muncul hanyalah dampak dari tekanan akademik. Namun semakin dihindari, perasaan itu justru tumbuh semakin nyata, seperti skripsi yang tak kunjung selesai ketika terus ditunda. Tanpa pernah benar-benar direncanakan, Jade akhirnya terjerat dalam sesuatu yang jauh lebih kompleks daripada penelitiannya sendiri. Ia jatuh hati-pada sosok yang seharusnya hanya menjadi pembimbing akademiknya. Sebuah perasaan yang melampaui batas logika, menembus aturan, dan tidak pernah diajarkan dalam metodologi mana pun. START: 210226