dyaap3
- Ketika rumah berubah menjadi medan perang.
Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman, tempat di mana seorang anak bisa bernafas tanpa rasa takut. Namun ketika rumah berubah menjadi medan perang, kehangatan retak menjadi serpihan yang menusuk setiap langkah. Dinding-dinding yang dulu menyimpan tawa kini menggema dengan bentakan, dan lantai yang dulu menjadi tempat bermain berubah menjadi ruang tempat ia belajar membaca tanda-tanda amarah. Semua luka yang datang tidak pernah ia minta, tetapi tetap menempel, menua bersamanya, mengajarinya cara bertahan sebelum ia sempat belajar bagaimana seharusnya dicintai.
Setiap hari terasa seperti menunggu badai berikutnya-tak ada kepastian kapan suara akan meninggi atau tangan akan mengayun. Di balik pintu kamar yang rapuh, ia mencoba mengecilkan dirinya, berharap amarah tidak menemukan jalan masuk. Namun tetap saja, suara itu menembus seperti peluru,
"Kalau kau tidak mau menurut, untuk apa aku membesarkanmu?"
Kalimat itu menancap lebih dalam daripada luka yang terlihat, seolah keberadaannya harus dibenarkan dengan kepatuhan mutlak. Dan di sanalah ia tumbuh - bukan dari cinta, tetapi dari rasa sakit yang tak pernah ia pilih.