clementid
- LECTURAS 2,666
- Votos 45
- Partes 7
Dirga tidak pernah benar-benar pulih sejak hari ketika dokter menyampaikan hasil laboratorium yang mengubah hidupnya. Vonis tentang kualitas spermanya menjadi awal runtuhnya harga diri yang selama ini ia sembunyikan di balik rutinitas kerja dan alasan kelelahan. Tak lama setelah kabar itu, pernikahannya dengan Dian resmi berakhir. Dian pergi tanpa banyak kata, meninggalkan rumah yang kini terasa seperti ruang kosong penuh gema kegagalan.
Perceraian itu bukan hanya soal cinta yang habis, tetapi tentang rasa tidak cukup sebagai laki-laki. Bayang-bayang Aldo, pria bertubuh atletis yang kini dekat dengan Dian, menjadi simbol dari semua yang tidak dimiliki Dirga: tubuh ideal, kepercayaan diri, dan kemungkinan menjadi ayah. Tekanan dari mantan mertuanya, Pak Handoko, yang terang-terangan menyebutnya "tidak berguna", semakin memperdalam luka. Ancaman tersirat dan tatapan menghakimi pria tua itu terus menghantui tidur Dirga.
Di tengah kehancuran itu, Dirga dihadapkan pada dua pilihan: mengikuti terapi hormon mahal di klinik kesuburan atau mencoba mengubah gaya hidupnya sendiri dengan disiplin keras. Secara finansial, ia tidak sanggup mengambil jalan instan. Secara mental, ia juga muak menjadi objek belas kasihan. Maka ia memilih opsi kedua-gym, pola makan ketat, dan komitmen yang sebelumnya tak pernah ia miliki.