angsabetina
Di sebuah musim ketika hari-hari berjalan lambat seperti halaman buku yang dibalik dengan hati-hati, hiduplah dua remaja yang tanpa sadar sedang menapaki kisahnya sendiri.
Sejak saat itu, banyak hal yang semula biasa berubah menjadi lebih berarti. Percakapan pendek di sela pelajaran, perjalanan pulang yang ditemani suara mesin motor dan tawa yang ringan, hingga keheningan yang entah mengapa terasa lebih penuh ketika mereka duduk berdampingan.
Namun waktu, sebagaimana musim yang tak pernah tinggal selamanya, selalu membawa geraknya sendiri.
Ada hari-hari ketika jarak tumbuh tanpa suara. Ada pula saat-saat ketika kata-kata yang tak sempat diucapkan justru tinggal lebih lama daripada percakapan yang pernah terjadi.
Di antara keduanya, terbentang suatu ruang yang sunyi bukan kesunyian yang memisahkan, melainkan keheningan yang perlahan membentuk makna. Seperti dua bintang yang berjalan di langit yang sama: kadang tampak berdekatan, kadang menjauh tanpa benar-benar hilang dari pandangan.
Di antara tawa yang pernah tinggal, di antara langkah yang pernah berjalan searah, perlahan muncul ruang sunyi yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan. Bukan jarak yang benar-benar memisahkan, melainkan keheningan yang tumbuh di antara dua hati yang pernah saling memahami tanpa banyak kata.
"Beberapa kata rindu tak harus sampai pada yang dituju," kata Narrala suatu hari.
"Terkadang ia hanya berlalu bagai angin malam yang dingin."
Dan Aksa, yang seringkali lebih banyak diam daripada berbicara, pernah berkata dengan nada yang hampir seperti bisikan,
"Aku masih mencintaimu, sayangku. Tapi entah kenapa aku lebih memilih menarik diri dari hidupmu. Maafkanlah aku atas segala luka yang aku titipkan, dan maafkan aku atas segala kerinduan yang tak pernah kau sampaikan. Tak ada yang benar-benar hilang darimu, bau parfum dan wangi rambutmu masih betah menempel di ujung kerah bajuku, dan jika semesta menyetujui aku masih ingin berjalan disampingmu."