Mynameis_Kimtaehee
- Lecturas 105,489
- Votos 186
- Partes 1
Kang Teja mengenalnya sebagai pelanggan satu lembar. Sampai suatu malam, lelaki itu datang membawa seluruh hidupnya dan berkata, "Pin... semua."
***
Di Teja Copy & Print, Kang Teja terbiasa menghadapi bencana: margin skripsi bergeser, daftar isi dibuat dengan spasi, atau berkas FINAL_BENERAN_FIX.pdf yang ternyata belum final. Selama kekacauan berada di Microsoft Word, ia tahu apa yang harus dilakukan.
Lalu seorang lelaki berjaket abu-abu muncul di antara antrean mahasiswa. Ia menyerahkan telepon retak, menunjuk gambar, dan berkata nyaris tenggelam oleh mesin, "Pin... Satu."
Lelaki itu kembali untuk mencetak huruf, kartu suku kata, dan gambar sederhana. Teja mengira semuanya dibuat untuk seorang anak, sampai satu lembar kembali dengan bekas pensil yang ditekan terlalu kuat. Pelanggan satu lembar itu sedang belajar membaca.
Kadang ia datang bersama lelaki lain yang memegang teleponnya, menjawab pertanyaan, dan terburu-buru membawanya pergi. Ketika kehamilannya tak lagi tersembunyi dan luka mulai muncul, Teja merasa telah memahami semuanya. Namun, dalam usahanya menolong, ia hampir menghancurkan jalan keluar yang dibangun diam-diam.
Beberapa minggu kemudian, lelaki itu menghilang.
Ia kembali ketika toko hampir tutup, dengan bibir pecah, tangan gemetar, dan perangkat penyimpanan berisi percakapan, transaksi, alamat, identitas yang ditahan, serta jejak kehidupan yang diperlakukan seperti barang. Di antara ratusan halaman itu, Teja menemukan satu nama:
Juan Aksara Pranata.
Teja tahu cara menyelamatkan berkas dan menjaga bukti agar tidak terhapus. Namun, Juan bukan dokumen rusak, dan hidupnya bukan halaman yang boleh disusun ulang, bahkan oleh orang yang berniat menolong.
Untuk tetap berada di sisinya, Teja harus belajar menunggu, menerima penolakan, dan tidak merebut akhir kalimat Juan.
Sebab cinta tidak menang ketika seseorang kembali memilihkan jalan baginya.
Cinta menang ketika Juan akhirnya dapat memilih dan tak seorang pun mengambil pilihan itu darinya.