swaberries
- Reads 3,654
- Votes 532
- Parts 16
Langit tak pernah meminta kilat, namun malam memaksa nya berpijar hingga terluka. Bagi Halilintar, kekuatan bukan anugerah. Melainkan kutukan yang menarik para pemangsa.
Dunia mengenalinya sebagai sosok yang tak tersentuh, tajam seperti pedang dan cepat seperti kedipan mata. Namun, di balik jubah lusuh itu, ia hanyalah jiwa yang tercerai.
Kini bukan lagi tentang bertarung di medan tempur, tapi mempertahankan diri dari runtuhnya jiwa sendiri. Bahkan petir yang paling perkasa pun membutuhkan tempat untuk luruh tanpa harus hancur.
©swaberries