youragustus
- Reads 120
- Votes 17
- Parts 10
Di halaman-halaman ini, seorang penulis membiarkan tulisannya menyingkap tempat yang tak muncul pada atlas,sebuah pelabuhan sunyi yang hanya bisa ditemukan oleh hati yang mau menunggu.
Bukan narasi petualangan laut yang penuh badai dan pelayaran heroik, melainkan catatan halus tentang keseharian, tentang jejak-jejak kecil yang ditinggalkan oleh seseorang bernama Arifandy. seorang pelaut tanpa seremonial,yang menumpuk senyum seperti kerikil di dermaga, yang menambatkan dirinya pada rutinitas sehingga kebiasaan menjadi rumah.
Tulisan ini bergerak seperti ombak tenang berulang namun tak sama, sederhana namun meninggalkan rona yang sesak di dada. Gaya penulisnya puitis tanpa berlebih, metafora laut dipakai sebagai selubung lembut untuk menampung kata-kata tentang kasih.