SeptiTriRahmadani6
Cahaya di Balik Luka
Sejak kehilangan orang tua mereka, hidup tak lagi memberi pilihan yang mudah. Seorang remaja harus tumbuh terlalu cepat, memikul peran sebagai kakak, pelindung, sekaligus pengganti rumah bagi adiknya yang masih polos. Di balik dinding rumah kecil mereka, ada kasih yang hangat-namun di luar, dunia terasa kejam.
Di sekolah, namanya tak dipanggil dengan hormat, melainkan dijadikan bahan ejekan. Kata-kata tajam, tatapan merendahkan, dan tawa yang menyakitkan perlahan mengikis kepercayaannya pada diri sendiri. Ia memilih diam, karena bersuara tak pernah benar-benar membuat luka berhenti.
Setiap hari adalah pertarungan antara bertahan dan menyerah. Antara menyembunyikan luka, dan tetap pulang dengan senyum agar adiknya tak ikut terluka. Dalam gelap yang menyesakkan, ia mulai bertanya: apakah hidup memang harus sesakit ini?
Namun di antara luka yang tak terlihat, masih ada cahaya kecil yang bertahan. Rapuh, nyaris padam, tetapi cukup untuk membuatnya melangkah satu hari lagi.
Novel ini adalah kisah tentang kehilangan, bullying, dan sunyi-tentang bagaimana luka bisa menjadi tempat lahirnya kekuatan, dan bagaimana harapan sering muncul dari arah yang paling tidak disangka.