Ancalasenja
- Reads 13,211
- Votes 4,368
- Parts 44
Arshaka Dmitriev Bagaskara. Matahari yang abadi.
Arkana Dmitriev Cakrawala. Langit yang suci.
Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, namun dibesarkan oleh cara dunia-dan ayah mereka-yang tak pernah adil.
Arsha adalah cahaya yang dipeluk harapan. Bersinar terang bagai mentari pagi, ia tumbuh dalam pujian dan cinta yang utuh. Pada dirinya, orang-orang melihat masa depan. Pada dirinya pula, sang ayah menggantungkan sisa hidup yang tak pernah pulih dari kehilangan.
Arka tumbuh dalam senyap. Sering dianggap redup, selalu dibandingkan, namun tak pernah benar-benar runtuh. Ia berdiri, bertahan tanpa pengakuan. Dunia lupa bahwa cahaya tak selalu harus menyilaukan untuk tetap ada.
Di balik perbedaan itu, tersembunyi luka lama milik Dmitriev Damarendra-seorang ayah yang tak pernah berdamai dengan masa lalu. Arsha dicintai karena menyerupai jiwa mendiang istrinya, menjadi tempat rindu berlabuh. Sementara Arka dijauhi karena membawa bayangan luka yang ingin ia kubur; rasa bersalah, kehilangan, dan kegagalan yang tak sanggup ia hadapi.
Namun tak ada yang benar-benar tahu, bahwa Arka menyimpan segalanya dalam diam. Dan tak ada yang menyadari, bahwa Arsha-di balik terangnya-selalu ingin mendekat, ingin meraih tangan yang tak pernah benar-benar digenggamnya.
Ini adalah kisah tentang duka yang diwariskan, tentang cinta yang salah sasaran, dan tentang dua anak yang terjebak di antara luka seorang ayah dan harapan mereka sendiri.
Lalu, ketika waktu memaksa kebenaran untuk muncul ke permukaan-ketika masa lalu tak lagi bisa dihindari, ketika diam tak lagi cukup, dan terang mulai lelah bersinar sendirian...
siapakah yang akhirnya mampu mendamaikan semuanya?
Ayah yang harus menghadapi lukanya,
anak yang terlalu lama memendam,
atau saudara yang sejak awal hanya ingin saling memiliki?
Ataukah pengampunan datang dari arah yang tak pernah mereka duga sama sekali?