anantararajdguna
Indonesia pernah ditelan oleh waktu yang panjang, dijerat oleh kekuasaan asing yang menancapkan kukunya hingga ke akar bumi, seakan tanah pertiwi hanyalah sebidang luka yang tak sempat sembuh, namun dari sekian banyak kisah tentang darah dan air mata, terselip satu cerita yang berdenyut lirih, seperti nyala pelita di tengah badai, sebuah kisah yang tak meminta untuk dilahirkan, namun tetap tumbuh di antara sekat yang memisahkan dua dunia yang tak seharusnya bersatu.
Williem Vanhasen, seorang mayor kolonel VOC, pria berwajah tegas dengan rahang yang terukir seakan dipahat oleh takdir, matanya dingin seperti musim dingin di tanah Eropa, namun jauh di dalam relung hatinya yang beku, tersimpan kehampaan yang tak pernah mampu ia pahami, hingga suatu hari langkahnya membawanya pada tanah Kalingga, tempat di mana angin berhembus membawa aroma bunga kenanga dan doa-doa yang dilangitkan dalam diam, di sanalah takdir mempertemukannya dengan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sosok itu berdiri di antara bayang cahaya senja, seperti ilusi yang lahir dari puisi para dewa, seorang pria dengan paras yang terlalu lembut untuk dunia yang keras ini, kulitnya seputih gading yang disentuh mentari tropis, matanya sipit memanjang bagai goresan tinta dalam lukisan , dan setiap gerak tubuhnya seolah menari di atas garis takdir yang berjalan, dia adalah putra dari seorang tumenggung di keraton Kalingga, seseorang yang seharusnya tak tersentuh oleh tangan asing, apalagi oleh seorang penjajah.
Dan saat mata mereka bertemu, dunia seakan berhenti berputar sejenak, seperti semesta menahan napasnya, Williem yang selama ini hidup dalam logika dan perintah, mendadak kehilangan arah, sementara pria itu hanya menatapnya dengan tenang, tanpa gentar, tanpa takut, seolah ia adalah badai yang tak bisa digoyahkan oleh angin asing.
"Siapa kau?" tanya Williem, suaranya berat namun menyimpan getar yang tak biasa.